RSS

Arsip Kategori: Artikel Engineering

Air Compressor

Salah satu rotating equipment yang banyak diaplikasikan di dunia project adalah “air compressor”. Adapun air compressor ini banyak di aplikasikan di unit IA/PA (baca artikel sebelumnya tentang IA/PA), di nitrogen plant, atau juga ada untuk keperluan process.

Yang akan saya sharing kan pada kesempatan kali ini adalah mengenai pembagian air compressor itu sendiri.

Secara cooling system air compressor dibagi menjadi air cooled dan water cooled.

Secara sistem lubrikasinya air compressor dibagi menjadi dry screw compressor dan oil flooded compressor.

Kedua pembagian ini akan dibahas secara terpisah.

Pembagian air compressor berdasarkan cooling system baca di sini

Pembagian air compressor berdasarkan sistem lubrikasi baca di sini

Iklan
 

Klasifikasi Air Compressor Berdasarkan Sistem Lubrikasi

Ditinjau dari sistem lubrikasinya Air Compressor dibagi menjadi ;

1. Oil Free Compressor

2. Oil Inject / Oil Flooded Compressor

Oil Free Compressor adalah compressor dimana bagian utamanya tidak terlubrikasi. Misal pada screw compressor, screw tidak terlubrikasi oleh oil. Karena screw tidak terlubrikasi, sehingga udara yang terdeliver ke sistem bersifat free oil.

Oil Inject compressor adalah compressor dimana bagian utamanya ikut terlubrikasi oleh oil. Misal pada screw compressor, screw terlubrikasi oleh oil. Sehingga ada kemungkinan oil yang terbawa udara yang dicompress. Sehingga pada jenis compressor ini ada alat oil separator. Fungsinya untuk memisahkan oil dan udara yang bercampur. Melalui oil separator inilah oil dan udara terpisah. Oil akan mengalir ke bagian bawah ke saluran lubrikasi dan udara akan mengalir kebagian atas yang akan berlanjut ke discharge compressor. Meskipun sudah ada oil separator, akan tetapi tidak dapat dijamin udara yang terdeliver ke sistem nantinya bersifat free oil. Oil yang terbawa ke sistem (oil carryover) pada compressor ini biasanya berkisar 2-5 ppm.

Pada oil free compressor, tekanan yang dihasilkan (discharge pressure) terbatas. Biasanya maximal 10 barg. Lain halnya dengan oil inject compressor yang bisa sampai 16 barg. Tentu dari sisi ini oil inject akan lebih diuntungkan. Lantas kenapa discharge pressure yang dihasilkan bisa lebih besar pada oil inject compressor? Jawabannya ada pada rumus gas ideal kawan. Tidak akan saya bahas secara rinci di sini.

Jika berbicara kualitas udara yang dihasilkan, pasti kita akan memilih oil free compressor. Karena udara yang dihasilkan sudah bersih (free oil) dibandingkan dengan oil inject compressor yang masih membawa oil 2-5 ppm. Namun hal tersebut lantas menjadi alasan dipilih nya oil free compressor pada suatu project. Sekali lagi tergantung penggunaan dan aplikasinya. Jika dalam penggunaannya masih diperbolehkan kandungan oil, saya lebih pilih pakai oil injet. Tentu hal ini alasan harga (costly). Akan tetapi jika memang penggunaanya mengharuskan udara yang free oil seperti pada aplikasi food & beverage seharusnya dipilih oil free compressor.

Dari segi life time, menurut saya oil inject compressor memiliki umur yang lebih bagus dibanding oil free. Bagaimanapun juga komponen mesin yang terlubrikasi secara rutin akan menambah umur komponen tersebut. Apalagi jika komponen tersebut tergolong rotating part.

Jadi, pemilihan compressor akan selalu melihat berbagai aspek dan sudut pandangnya. Semoga penjelasan singkat ini dapat memberikan gambaran dan tambahan ilmu bagi teman2 engineer.

 
 

Klasifikasi Air Compressor Berdasarkan Cooling System

Jika kita mengingat kembali hukum pada Gas Ideal (P.V ≅ T). Artinya ketika suatu gas ideal dinaikan pressurenya akan terjadi kenaikan temperature pula. HAl tersebut yang terjadi pada unit air compressor. Ketika udara itu di compress maka pressure nya akan naik yang akan menyebabkan temperature naik juga. Oleh karena itu, udara tersebut perlu di dinginkan sebelum dideliver ke sistem. Sistem pendinginan inilah yang menjadikan compressor dibagi menjadi air cooled dan water cooled.

Air Cooled compressor –> Seperti pada namanya, compressor ini menggunakan udara sebagai media pendinginnya. Udara didinginkan menggunakan udara. Tetapi dalam kasus ini tentu udara yang didinginkan berbeda dengan udara yang pendinginnya. Udara yang didinginkan adalah udara keluar compressor (sebenarnya udara setelah mengalami kenaikan pressure setelah dicompress oleh compressor).  Udara pendingin di ambil dari udara sekitar.

Water Cooled compressor –> Dapat dilihat dari namanya, air compressor water cooled menggunakan water (air) sebagai media pendinginnya. air yang digunakan sebagai media pendingin biasanya diambil dari demin water, yaitu air yang sudah mendapatkan perlakuan tertentu sehingga tingkat kemurniannya tinggi. Hal ini mengingat komponen di dalam compressor harus dijaga agar tidak mudah rusak (korosi misalnya). Karena menggunakan media air sebagai pendinginnya, maka di sini terdapat peralatan tambahan berupa pompa yang bertugas mendistribusikan air ke dalam unit compressor itu sendiri. Biasanya disebut closed loop water pump. Air yang keluar dari compressor setelah digunakan untuk mendinginkan udara compressor tentunya memiliki temperature tinggi, sehingga perlu adanya tambahan cooler dan biasanya type coolernya PHE (Plate Heat Exchanger). Demin water ini akan didinginkan oleh water juga. Air yang digunakan untuk mendinginkan demin water keluaran compressor adalah air dari cooling tower.

Secara sistem akan lebih mudah air cooled compressor dibandingkan dengan water cooled compressor. Akan tetapi dengan mempertimbangkan beberapa aspek teknis dan kondisi lapangan, tidak sedikit juga project yang menggunakan water cooled compressor.

 
 

Instrument Air Compressor and Air Dryer Package (IA/PA)

Sudah cukup lama tidak membuka-buka blog setelah cukup lama berkarir di dunia kerja (padahal baru 2 tahun,,masih cupu juga. Hehehehee…).

Ok, let’s continued.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin berbagi ilmu mengenai salah satu Mechanical Equipment yang umum digunakan dalam berbagai project.

Instrument Air Compressor and Dryer Package atau lebih umum dikenal dengan istilah IAPA

Secara umum IAPA ini terdiri dari Air Compressor, Air Dryer dan Receiver. Receiver ini dapat terdiri dari satu receiver maupun dua receiver tergantung aplikasi penggunaanya. Ok,,sebelum berbicara lebih jauh mengenai equipment2 tersebut, kita bahas mengenai aplikasinya / tujuan dari unit IAPA ini.

Fungsi dari unit IAPA ini adalah untuk mensuplai kebutuhan air (udara) dalam suatu plant. Kebutuhan air ini dibagi menjadi kebutuhan untuk keperluan instrument dan utility.

Jika dalam suatu plant membutuhkan udara untuk dua keperluan tersebut maka unit IAPA ini terdiri dari :

1. Air Compressor

2. Wet / Plant Air Receiver

3. Air Dryer

4. Instrument Air Receiver

Akan tetapi jika tidak dibutuhkan udara untuk keperluan utility, wet air receiver tidak digunakan. Udara dari air compressor langsung dialirkan ke air dryer.

Secara skematik dapat dilihat di sini

Jadi, ketika memang tidak ada udara yang didistribusikan ke plant air, udara keluar compressor langsung menuju air dryer tanpa melalui wet air receiver.

Adapun fungsi dan peran masing equipment tersebut adalah sebagai berikut;

Air Compressor –> bertugas mensuplai udara yang dibutuhkan,

Wet/Plant Air Receiver –> dari namanya sudah jelas bahwa receiver ini untuk menampung udara yang masih bersifat basah yang nantinya akan di deliver untuk kebutuhan utility. Di receiver ini udara di bagi menjadi dua, yang digunakan untuk keperluan utility dia langsung didistribusikan sesuai dengan penggunaannya, akan tetapi yang digunakan untuk keperluan instrument air, udara dari plant air akan masuk ke air dryer untuk dikeringkan terlebih dahulu.

Air Dryer –> Bertugas mengeringkan udara yang masih basah. Mengeringkan di sini artinya menurunkan Dew Point. Persyaratan untuk Dew Point untuk aplikasi instrument air bermacam2. Pembagiannya di atur oleh ISO 8573. Yang umum digunakan adalah persyaratan dew point class 2 (-40 deg C). Kenapa udara yang akan didistribusikan ke instrument air perlu dikeringkan? Hal ini untuk mengurangi kemungkinan terjadi kondensasi pada udara yang dipakai nantinya. Karena aplikasinya pada peralatan2 instrument dimana dibutuhkan spesifikasi udara yang benar2 kering. Udara akan lebih susah terkondensasi jika memiliki dew point yang rendah.

Instrument Air Receiver –> Fungsi dari instrument air receiver ini pada dasarnya sama seperti wet air receiver, yaitu untuk menampung udara keluaran air dryer. Hanya saja udara di sini sudah kering karena dew point nya sudah diturunkan.

Demikian yang dapat saya share ke teman2. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan keteknikan teman2.

 

Accessories on Pressure Vessel

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba share tentang Pressure Vessel.. Pada tulisan saya sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang Support of Pressure Vessel. Sekarang saya akan mencoba menjelaskan tentang part yang ada di pressure vessel yang tidak bisa diabaikan keberadaannya. Part tersebut (atau lebih tepatnya disebut sebagai attachment accessories) pada umumnya dalam bentuk nozzle . Accessories tersebut antara lain manhole, PSV connection, level transmitter, access opening/access hole, vent hole, drain, inlet for another equipment, outlet to another equipment, etc.. Dari accessories tersebut terkadang ada yang masuk scope kerja nonmechanical dalam fase installation tergantung perjanjian di awal kontrak. Sebagai contoh, PSV connection, level transmitter, earthing lug, etc, part2 tersebut masuk dalam scope nya orang electrical.

Berikut akan saya coba paparkan accessories tersebut (yang saya tahu aja)..

– Manhole : berfungsi untuk access maintenence. Selalu dilengkapi dengan blind flange (penutup/pintu manhole) dan davit (pengait blind flange pada saat manhole dibuka)

– PSV connection (Pressure Switch Valve Connection) : alat ini berfungsi mengontrol pressure di dalam vessel agar tetap ideal. PSV connection terhubung dengan control valve.

Level Transmitter : alat ini berfungsi untuk mendeteksi ketingginan fluida pada vessel. Jenisnya ada Level Gage dan Level Switch Transmitter.

– vortex breaker : saya belum paham betul kalo yang ini, tpi sepenangkepan saya ini masuk jenis outlet bukan inlet seperti liquid outlet

– Drain : untuk pembuangan/pengurasan (biasanya satu saluran dengan vortex breaker )

 Segitu aja dlu yang bisa saya share .. kesempatan berikutnya mungkin saya akan coba berbagi lebih detail perihal soal nozzle ….

 

Galvanizing Process

Galvanisasi merupakan proses pelapisan logam induk dengan logam lain (umumnya Zn) dengan tujuan agar logam induk mempunyai ketahanan korosi yang lebih baik. Galvanisasi umumnya menggunakan logam yang memiliki titik cair yang lebih rendah.

Proses Galvanisasi paling tidak ada 2 jenis:

– Pencelupan dalam Zn yang mendidih (disebut hot deep galvanizing)

– Elektolisa

Dari segi penampilan, dengan elektrolisa akan lebih rapi, tetapi biasanya daya proteksinya akan lebih pendek karena lapisannya lebih tipis dan kurang menyatu sempurna.

Sedangkan Hot Deep, permukaannya biasanya agak kurang rata, karena mengikuti dari profil celupan, juga biasanya akan ada sisa2 celupan yang memadat ketika diangkat.Dengan metoda ini proteksi akan jauh lebih baik, karena lapisan Zn lebih tebal, dan juga ketika dilakukan pencelupan, terjadi juga sedikit campuran antara besi dan Zn yang sama-sama meleleh, sehingga membentuk semacam campuran.

Betul proses perlindungan terjadi karena terkorbannya Zn, tetapi hal ini berbeda jauh dengan mekanisme sacrificing, karena ketika Proses oksidasi pada permukaan besi galvanis maka Zn akan berubah menjadi ZnO. ZnO akan membentuk lapisan sekaligus menutup besi, yang bisa dibayangkan seperti penutupan besi dengan cat, dan ini terjadi secara lebih merata di seluruh permukaan.

Periode Proteksi, yang lazim di rujuk adalah tahan selama 20 tahun  untuk hot deep galvanize tanpa perlu perawatan lain, dan kalaupun dilakukan pengecatan, ini lebih disebabkan karena alasan estetika saja.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2012 in Artikel Engineering

 

Post Weld Heat Treatment

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di blog kesayangan ini. Setelah disibukan dengan skripsi, ndak lama lgsg disibukan dgn urusan kerjaan… Ok, lgsung aja..kali ini saya ingin share ke tman2 pemburu ilmu perihal mengenai Post Weld Heat Treatment atau biasa disingkat PWHT..

Post Weld Heat Treatment (PWHT) merupakan salah satu proses heat treatment yang tujuan utamanya untuk menghilangkan tegangan sisa pada hasil welding. Material (terutama carbon steel) akan mengalami perubahan struktur karena proses pemanasan dan pendinginan. Struktur yang tidak homogen inilah yang menyebabkan tegangan sisa pada material pasca pengelasan (welding). Dampak dari tegangan sisa ini material akan menjadi lebih keras akan tetapi ketangguhannya kecil. Ini tentu sifat yang tidak diharapkan. Oleh sebab itu, material harus dikembalikan ke sifat semula dengan cara pemanasan dengan suhu dan tempo waktu (holding time) tertentu.

PWHT dilakukan pada material yang memiliki ketebalan spesifik dan grade material tertentu:
– CS dan LTCS untuk thickness diatas 20 mm
– Low Alloy Steel dengan kandungan Cr kurang dari 1/2%, dengan thickness diatas 20 mm
– Low Alloy Steel dengan kandungan Cr lebih dari 1/2%, dengan thickness diatas 13 mm

Ketentuan tersebut merujuk pada suatu standard code design & code construction yang berlaku internasional, seperti ASME B31.8 untuk piping Gas Transport, ASME Section VIII untuk pressure vessel dan ASME B 31.3 untuk pipa pada Piping Process.

Selain untuk menghilangkan tegangan sisa, PWHT juga dilakukan untuk mencegah SCC (Stress Corrosion Cracking) untuk beberapa corrosive environment seperti amine, sour service dan custic.

sekian dulu yang bisa saya share..mohon koreksinya ya, jika ada kesalahan atau saran dan masukannya.. Karena ini sebenarnya bukan scope work saya,,hanya saja saya tanya ama orng2 QC(Quality Control) di tmpat saya kerja.hehehe…semoga bisa bermanfaat..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2012 in Artikel Engineering