RSS

Arsip Kategori: Fluid Mechanics

Pressure Gage VS Pressure Absolut

Istilah pressure (tekanan) kerap kali digunakan dalam dunia engineering terutama pada bidang mekanika fluida. Untuk teman2 engineer mungkin masih ada yang bingung perihal “tekanan”. Tekanan sendiri merupakan suatu besaran vektor yang didapat dari pembagian Gaya dengan Luas area, atau secara matematis dapat dirumuskan menjadi:

P= F/A

Dalam mekanika fluida istilah tekanan yang dipakai ada dua, yaitu pressure absolute dan pressure gage. Pressure absolute merupakan besarnya tekanan aktual yang sesungguhnya. Pressure gage merupakan besar tekanan terukur yang mengacu pada kondisi 1 atm (tekanan tepat di atas permukaan air laut). Besar 1 atm sendiri mendekati 101 kPa. Pressure gage dapat bernilai negatif maupun positif. Bernilai negatif atau yang biasa disebut vacuum pressure, apabila tekanan yang diukur lebih kecil dari tekanan atmosfir dan bernilai positif jika tekanan yang diukur lebih besar dari tekanan atmosfir.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Fluid Mechanics

 

Pemilihan Valve

Beberapa jenus valve yang sering dipakai pada sistem perpipaan:

a. Ball Valve

Secara umum ball valve dipakai untuk keperluan on/off. Ball valve tidak boleh digunakan untuk keperluan regulasi/throttling.

b. Butterfly

Butterfly valve tidak boleh digunakan pada produk hidrokarbon dan hanya digunakan untuk kelas di bawah ANSI 150, kecuali kondisi penutupan yang sempurna tidak diperlukan.

c. Check Valve

Check valve tidak boleh dipasang pada aliran turun vertikal. Pada aliran yang pulsatif , check valve jenis piston sebaiknya digunakan. Pada masa sekarang, check valve jenis wafer semakin banyak digunakan mengingat dimensinya yang kecil, dan ringan dibandingkan jenis swing.

d. Gate Valve

Gate Valve umumnya dipakai untuk aplikasi on/off atau untuk keperluan isolasi, small drain, dan venting. Gate valve tidak direkomendasikan untuk digunakan pada aplikasi regulasi/throttling.

e. Globe Valve

Globe Valve umumnya digunakan untuk aplikasi throttling/ regulasi, by-pass control valve, drain line, atau sample connections.

Sumber:http://www.agussuwasono.com

 
 

Kalor, Kalor Sensibel dan Kalor Laten

Kalor/Panas adalah energi yang diterima oleh benda sehingga suhu benda atau wujudnya berubah.Ukuran jumlah panas dinyatakan dalam notasi British Thermal Unit (BTU). Air digunakan sebagai standar untuk menghitung jumlah panas karena untuk menaikkantemperature 1° F untuk tiap 1 lb air diperlukan panas 1 BTU.

Kalor jenis suatu benda artinya jumlah panas yang diperlukan benda itu agar temperaturnya naik 1° F.

Kalor sensible adalah panas yang menyebabkan terjadinya kenaikan/penurunan temperatur, tetapi phasa (wujud) tidak berubah.

Kalor laten adalah panas yang diperlukan untuk merubah phasa (wujud) benda, tetapi temperaturnya tetap.

Kalor laten penguapan(latent heat of vaporization) adalah jumlah panas yang harus ditambahkan kepada zat (cair)pada titik didihnya sampai wujudnya berubah menjadi uap seluruhnya pada suhu yang sama.

Kalor laten pengembunan (latent heat of condensation) adalah jumlah panas yang harusdibuang/dikeluarkan oleh zat (gas/uap) pada titik embunnya, untuk mengubah wujud zat darigas menjadi cair pada suhu yang sama.

Kalor laten pencairan/peleburan (latent heat of fusion) adalah jumlah panas yangharus ditambahkan kepada zat (padat) pada titik leburnya sampai wujudnya berubah menjadicair semuanya pada suhu yang sama.

Kalor laten pembekuan (latent heat of solidification) adalah jumlah panas yang harus dibuang/dikeluarkan oleh zat (cair) pada titik bekunya untuk mengubah wujudnya dari cair menjadi padat pada suhu yang sama.

Berikut tabel nilai kalor dari beberapa bahan

 
 

Jenis Pompa Berdasar Tekanan

Klasifikasi Pompa Bila ditinjau dari segi tekanan yang menimbulkan energi fluida maka pompa dapat diklasifikasikan dalam 2 jenis yaitu :

1. Pompa tekanan statis

Pompa Tekanan Statis Pompa ini disebut juga “positive displacement” dimana head yang terjadi akibat tekanan yang diberikan terhadap fluida dengan cara energi yang diberikan pada bagian utama peralatan pompa menekan langsung fluida yang di pompakan. Jenis pompa yang termasuk dalam golongan statis adalah

a.       Pompa putar ( Rotary Pump )

b.      Pompa bolak – balik ( Reciprocating Pump )

2. Pompa Tekanan Dinamis

Pompa ini disebut juga dengan “ Non Positive Displacement Pump “, pompa tekanan dinamis terdiri dari poros, sudu – sudu impeller, rumah volut, dan saluran keluar. Energi mekanis dari luar diberikan pada poros pompa untuk memutar impeller. Akibat putaran dari impeler menyebabkan head dari fluida menjadi lebih tinggi karena mengalami percepatan. Ditinjau dari arah aliran yang mengalir melalui sudu – sudu gerak, maka pompa tekanan dinamis digolongkan atas tiga bagian, yaitu :

a.      Pompa aliran radial

b.      Pompa aliran aksial

c.      Pompa aliran campuran

Sumber: yefrichan.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 14, 2011 in EPC, Fluid Mechanics

 

Fluid Mechanics

Fluid Mechanics – An Introduction to the Theory of Fluid Flows F.Durst

Silahkan download di sini

Fluid Mechanics Frank Kreith, Stanley A.Berger; et. al.

Silahkan download di sini

Fundamental of Fluid Mechanics Bruce R. Munson, Donald F. Young and Theodore H. Okiishi

Silahkan download di sini

 

 

 

Pump

Pump Handbook Igor J. Karassik, Joseph P. Messina, Paul Cooper, Charles C. Heald

Silahkan download di sini

Centrifugal Pumps (A practicial reference stressing hydraulic design, performance prediction, analysis, and evaluation) Val S. Lobanoff & Robert R.Ross 2nd Edition

Silahkan download di sini

Pumps (Reference Guide) Gordon S. Bolegoh 3rd Edition

Silahkan download di sini

Forsthoffer’s Rotating Equipment Handbooks Vol 2: PUMPS William E. Forsthoffer

Silahkan download di sini

 

Perhitungan Ketebalan Pipa pada Piping

WALL THICKNESS CALCULATION

Perhitungan ketebalan pipa bisa dilakukan dengan memakai rumus berikut:

2

Dimana:
tm   = minimum required wall thickness (inches).
P  =  internal design pressure (psig).
T  =  selected pipe wall thickness (pipe schedules)
D  =  outside diameter of pipe (inches).
S  =  allowable stresses for pipe material (psi), per tables in ASME B31.3 (Appendix A)
E  =  longitudinal weld joint factor, per tables in ASME B31.3 (Appendix A – normally 1.0 for seamless pipe).
Y  =  temperature factor, per Table 304.1.1 in ASME B31.3 (Normally 0.4).
C  =  the sum of mechanical allowances (groove depth and threading) plus allowances for corrosion and erosion (inches).
MT  =  factor to account for mill tolerance on pipe wall thickness. 0.875 for seamless A-106 Gr. B pipe and seamless API-5L Gr. B pipe. 0.90 for API-5L Gr. B welded 20 inch NPS and above.

Notes:

(1) Rumus ini dipakai jika t kurang dari D/6 dan P/SE kurang dari atau sama dengan 0.385.

(2) Rumus ini diambil dari ASME B31.3 (ASME B31.4 dan B31.8 memiliki rumus yang berbeda).

(3) Threading allowances adalah sebagai berikut (dari ASME B1.20.1, ASME B31.3, Sections 304.1.1 dan 314):

½” – ¾” NPS  0.0571″ thread allowance  1″ – 2″ NPS  0.0696″ thread allowance

Sumber: http://www.agussuwasono.com

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada September 16, 2011 in Artikel Engineering, Fluid Mechanics, Material