RSS

Arsip Bulanan: Juni 2012

Accessories on Pressure Vessel

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba share tentang Pressure Vessel.. Pada tulisan saya sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang Support of Pressure Vessel. Sekarang saya akan mencoba menjelaskan tentang part yang ada di pressure vessel yang tidak bisa diabaikan keberadaannya. Part tersebut (atau lebih tepatnya disebut sebagai attachment accessories) pada umumnya dalam bentuk nozzle . Accessories tersebut antara lain manhole, PSV connection, level transmitter, access opening/access hole, vent hole, drain, inlet for another equipment, outlet to another equipment, etc.. Dari accessories tersebut terkadang ada yang masuk scope kerja nonmechanical dalam fase installation tergantung perjanjian di awal kontrak. Sebagai contoh, PSV connection, level transmitter, earthing lug, etc, part2 tersebut masuk dalam scope nya orang electrical.

Berikut akan saya coba paparkan accessories tersebut (yang saya tahu aja)..

– Manhole : berfungsi untuk access maintenence. Selalu dilengkapi dengan blind flange (penutup/pintu manhole) dan davit (pengait blind flange pada saat manhole dibuka)

– PSV connection (Pressure Switch Valve Connection) : alat ini berfungsi mengontrol pressure di dalam vessel agar tetap ideal. PSV connection terhubung dengan control valve.

Level Transmitter : alat ini berfungsi untuk mendeteksi ketingginan fluida pada vessel. Jenisnya ada Level Gage dan Level Switch Transmitter.

– vortex breaker : saya belum paham betul kalo yang ini, tpi sepenangkepan saya ini masuk jenis outlet bukan inlet seperti liquid outlet

– Drain : untuk pembuangan/pengurasan (biasanya satu saluran dengan vortex breaker )

 Segitu aja dlu yang bisa saya share .. kesempatan berikutnya mungkin saya akan coba berbagi lebih detail perihal soal nozzle ….

Iklan
 

Pressure Vessel

Postingan kali ini saya akan mencoba share tentang Pressure Vessel.

 Pressure vessel biasa disebut dengan Bejana Tekan, merupakan tempat (wadah) tertutup yang dirancang dan digunakan untuk menampung cairan atau gas (fluida), dengan tekanan kerja lebih besar dari tekanan atmosfir (lingkungan) sekitarnya.

Biasanya bejana tekan digunakan untuk bermacam–macam aplikasi di berbagai sektor industri, terutama pada sektor industri kimia(petrochemical plant), pembangkit energi (power plant), industri minyak dan gas (oil and gas), dan berbagai industri lainnya. ——-> Sumber

Dalam postingan ini tidak membahas secara detail tentang apa itu Pressure Vessel maupun fungsinya, akan tetapi lebih kepada sisi construction dari Vessel itu sendiri. Dalam dunia Engineering maupun Construction terdapat dua jenis vessel dilihat dari orientasi pemasangannya, yaitu:

Vertical Vessel (biasa disebut dengan istilah “Column”)

Horizontal Vessel (biasa disebut dengan istilah “Vessel”)

Dalam pemasangan Pressure vessel dibutuhkan penyangga/support.Support  pada Vessel dibedakan menjadi 3 yaitu Support Skirt, Support Saddle dan  Support leg .

1. Support Skirt

Jenis support ini diperuntukan untuk vertical vessel , bentuknya ada yang lurus berdiameter sama dengan vessel ada juga yang bentuknya semi mengerucut (seperti “skirt” atau rok).

                  

Gambar di atas merupakan contoh support skirt. Gambar sebelah kiri yang berwarna merah merupakan skirt untuk bentuk yang lurus. Sedangkan yang kanan untuk bentuk mengerucut.

Penggunaan kapan harus menggunakan bentuk lurus dan mengerucut salah satunya bergantung pada faktor transportasi dari port ke site.

2. Support Saddle.

Bentuk support ini dikhususkan untuk Horizontal Vessel.

3. Support Leg

Sesuai dengan namanya, bentuk support ini seperti “kaki”. Digunakan pada Vertical vessel (Column)

Demikian yang dapat saya share ke temen2.. Jika ada pembaca yang lebih menguasai tentang Pressure Vessel ini diharapkan bisa mengoreksi atau menambahkan informasi.Semoga bermanfaat..


 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 16, 2012 in EPC, Mechanical Engineering

 

Galvanizing Process

Galvanisasi merupakan proses pelapisan logam induk dengan logam lain (umumnya Zn) dengan tujuan agar logam induk mempunyai ketahanan korosi yang lebih baik. Galvanisasi umumnya menggunakan logam yang memiliki titik cair yang lebih rendah.

Proses Galvanisasi paling tidak ada 2 jenis:

– Pencelupan dalam Zn yang mendidih (disebut hot deep galvanizing)

– Elektolisa

Dari segi penampilan, dengan elektrolisa akan lebih rapi, tetapi biasanya daya proteksinya akan lebih pendek karena lapisannya lebih tipis dan kurang menyatu sempurna.

Sedangkan Hot Deep, permukaannya biasanya agak kurang rata, karena mengikuti dari profil celupan, juga biasanya akan ada sisa2 celupan yang memadat ketika diangkat.Dengan metoda ini proteksi akan jauh lebih baik, karena lapisan Zn lebih tebal, dan juga ketika dilakukan pencelupan, terjadi juga sedikit campuran antara besi dan Zn yang sama-sama meleleh, sehingga membentuk semacam campuran.

Betul proses perlindungan terjadi karena terkorbannya Zn, tetapi hal ini berbeda jauh dengan mekanisme sacrificing, karena ketika Proses oksidasi pada permukaan besi galvanis maka Zn akan berubah menjadi ZnO. ZnO akan membentuk lapisan sekaligus menutup besi, yang bisa dibayangkan seperti penutupan besi dengan cat, dan ini terjadi secara lebih merata di seluruh permukaan.

Periode Proteksi, yang lazim di rujuk adalah tahan selama 20 tahun  untuk hot deep galvanize tanpa perlu perawatan lain, dan kalaupun dilakukan pengecatan, ini lebih disebabkan karena alasan estetika saja.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2012 in Artikel Engineering

 

Post Weld Heat Treatment

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di blog kesayangan ini. Setelah disibukan dengan skripsi, ndak lama lgsg disibukan dgn urusan kerjaan… Ok, lgsung aja..kali ini saya ingin share ke tman2 pemburu ilmu perihal mengenai Post Weld Heat Treatment atau biasa disingkat PWHT..

Post Weld Heat Treatment (PWHT) merupakan salah satu proses heat treatment yang tujuan utamanya untuk menghilangkan tegangan sisa pada hasil welding. Material (terutama carbon steel) akan mengalami perubahan struktur karena proses pemanasan dan pendinginan. Struktur yang tidak homogen inilah yang menyebabkan tegangan sisa pada material pasca pengelasan (welding). Dampak dari tegangan sisa ini material akan menjadi lebih keras akan tetapi ketangguhannya kecil. Ini tentu sifat yang tidak diharapkan. Oleh sebab itu, material harus dikembalikan ke sifat semula dengan cara pemanasan dengan suhu dan tempo waktu (holding time) tertentu.

PWHT dilakukan pada material yang memiliki ketebalan spesifik dan grade material tertentu:
– CS dan LTCS untuk thickness diatas 20 mm
– Low Alloy Steel dengan kandungan Cr kurang dari 1/2%, dengan thickness diatas 20 mm
– Low Alloy Steel dengan kandungan Cr lebih dari 1/2%, dengan thickness diatas 13 mm

Ketentuan tersebut merujuk pada suatu standard code design & code construction yang berlaku internasional, seperti ASME B31.8 untuk piping Gas Transport, ASME Section VIII untuk pressure vessel dan ASME B 31.3 untuk pipa pada Piping Process.

Selain untuk menghilangkan tegangan sisa, PWHT juga dilakukan untuk mencegah SCC (Stress Corrosion Cracking) untuk beberapa corrosive environment seperti amine, sour service dan custic.

sekian dulu yang bisa saya share..mohon koreksinya ya, jika ada kesalahan atau saran dan masukannya.. Karena ini sebenarnya bukan scope work saya,,hanya saja saya tanya ama orng2 QC(Quality Control) di tmpat saya kerja.hehehe…semoga bisa bermanfaat..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2012 in Artikel Engineering