RSS

Hukum Istri Yang Memusuhi Mertua

27 Mar
Persoalan ketidakcocokan dalam suatu hubungan kerap kali mengganggu keharmonisan hubungan tersebut. Masalah ini tidak jarang muncul dalam lingkup keluarga. Banyak suatu ketidakcocokan antara menantu dan mertua. Baik itu antara menantu laki-laki dengan ibu/bapak mertua maupun menantu perempuan dengan ibu/bapak mertua. Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengambil kasus permasalahan antara menantu perempuan (istri) dan ibu mertua (ibu kita).
Tidak dipungkiri, yang menjadi pemicunya, terkadang masalah yang ringan, tetapi kadang juga persoalan yang mendasar dan besar. Timbulnya bias karena faktor istri, tetapi kadang juga karena faktor ibu mertua itu sendiri, yang terkadang berlebihan dalam bersikap, sehingga membuat risih menantunya. Bahkan tak jarang membuat menantunya merasa sangat terganggu, sehingga tidak menyukai sikap ibu mertua, atau bahkan sampai “membencinya”. Bisa juga timbul karena miss komunikasi antara keduanya. Jadi perlu kejelasan duduk persoalan yang sedang Anda hadapi ini, agar dapat dicarikan solusi dahulu, baru kemudian mensikapinya dengan penuh bijak.

Setelah mengatahui duduk permasalahan selesaikanlah masalah tersebut dengan damai, dan itu lebih baik, sebagaimana firman Allah:

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

“…dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”. [an Nisaa` : 128]

Bila memungkinkan, cari lah penyebab kebencian tersebut. Usahakan agar mempertahankan pernikahan tersebut. Sangat dianjurkan agar kita menasihati sang istri untuk mengalah dan menghilangkan prasangka buruk kepada ibu mertua. Di sisi lain kita juga perlu sekali membicarakan dengan ibu, juga agar bersikap kooperatif. Tetapi kita tidak boleh lupa, bahwa hati manusia itu berada di tangan Allah, dan Allah-lah yang membolak-balikkannya, sebagaimana sabda Rasulullah :

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati-hati bani Adam seluruhnya di antara dua jemari Allah seperti satu hati. Allah palingkan sesukanya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati-hati, palingkanlah hati-hati kami untuk mentaati Engkau”. [HR Muslim].

Dengan memahami ini, kita jangan sampai lupa menyerahkan hal ini kepada Allah, berdoa agar kebencian dihilangkan dari hati keduanya.

Sebagai seorang suami, hendaknya menasehati istri untuk tetap bertakwa kepada Allah. Berusahalah menghilangkan kebencian dan permusuhan kepada Ibu mertua. Ingatlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

“Jangan saling bermusuhan, saling hasad dan saling berpisah. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak boleh seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”. [HR al Bukhari].

Sampaikan kepada istri bahwa sebagai muslim, kita dilarang saling bermusuhan, apalagi yang  dimusuhi adalah mertua. Mungkin berat di hati, namun dengan ketabahan dan kesabaran, insya Allah,kita akan mendapatkan kebaikan berlipat, baik dalam kehidupan dunia yang fana’ ini, atau pada kehidupan akhirat yang kekal nanti.

Kepada ibu mertua (ibu kita) , nasehatilah dengan halus bahwa hendaklah bertakwa dan sabar melihat kelemahan, kesalahan dan kekurangan menantunya. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menjadi yang kita inginkan, yang bisa kita lakukan adalah menerima dan memahami kelemahan dan kekurangan menantu. Bagaimanapun juga menantu adalah anak dari ibumertua juga. Mereka sudah tumbuh dewasa dan tahu mana yang baik dan buruk bwt dunia dan akhiratnya. Bersabarlah dan terus berusaha instrospeksi agar senantiasa menjadi hamba Allah yang sabar dan bertakwa. Tak ada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah, yang cepat bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap bani Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat”. [HR at Tirmidzi, dan dihasankan Syaikh al Albani].

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 27, 2012 in Agama

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: