RSS

Arsip Harian: September 28, 2011

Ilmu Bahan (Bahan Teknik)

Handbook Material Science and Engineering 7th William D. Callister, Jr.

Silahkan download di sini

Iklan
 
 

Lebih Berenergi Olahraga Lebih di Pagi Hari

Berolahraga di pagi hari tentunya punya banyak tantangan, salah satunya harus bangun lebih awal. Tapi cobalah untuk memulai olahraga di pagi hari, karena banyak manfaatnya lo.

Di pagi hari, udara masih bersih, dan ini sangat baik buat paru-paru. Selain itu sinar matahari yang masuk ke retina mata di pagi hari akan memasuki jalur saraf ke otak sebagai sinyal awal fungsi tubuh, dan juga membantu memulai fungsi metabolisme seperti memicu pelepasan hormon-hormon yang mempengaruhi nafsu makan, tekanan darah dan siklus tidur-bangun.

Seperti dikutip Livestrong, beberapa manfaat berikut bisa Anda dapatkan dengan berolahraga di pagi hari.

* Membantu orang lebih konsisten berolahraga.
Umumnya di pagi hari sangat jarang menemui hambatan, bandingkan dengan ketika olahraga di malam hari atau setelah pulang dari bekerja. Kebanyakan orang sudah merasa lelah bekerja, akhirnya malas untuk berolahraga.

* Lebih berenergi.
Olahraga di pagi hari lebih meningkatkan mood dan energi sesudahnya. Kondisi ini membantu orang menjadi lebih siap untuk menghadapi tantangan kerja atau apapun di siang hari. Bila olahraga dilakukan di malam hari akan membuat suhu tubuh naik dan bisa mengganggu tidur.

* Lebih baik dalam membakar kalori.
Setelah berolahraga, tubuh masih akan membakar kalori karena masih banyaknya kegiatan yang dilakukan. Saat bekerja, tubuh akan menggunakan energi secara lebih efisien sehingga merampingkan massa otot.

* Tempat kebugaran belum ramai.
Kebanyakan orang pergi ke tempat kebugaran sore atau malam hari sehingga tempat tersebut penuh, bahkan harus antri bila menggunakan peralatan olahraga. Nah, jika pergi ke tempat kebugaran di pagi hari, tidak perlu antri untuk menggunakan peralatan, sehingga olahraga akan lebih efektif.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2011 in Artikel Menarik

 

Phu Quoc: Upaya Vietnam untuk Menjadi Raja Pantai Asia

Bagaimana Vietnam berharap untuk meningkatkan jumlah wisatawan jadi 2 juta orang dengan bantuan sebuah pulau yang tenang dan sepi.

Oleh Christopher Johnson

Jika Anda pernah bertanya-tanya seperti apa rupa Thailand pada akhir 1980-an, datanglah ke Pulau Phu Quoc di lepas pantai barat daya Vietnam, salah satu tujuan baru di ‘sirkuit’ Teluk Siam yang mencakup Koh Samui, Koh Chang, dan Koh Kong.

Dengan cepat, Phu Quoc menjadi tujuan populer wisata pulau di Vietnam. Sampai sekarang, Phu Quoc berhasil mempertahankan karakter yang tidak lagi akan Anda temui di Thailand.

Pedagang pasar mengenakan topi kerucut menjajakan baguette, bebek, kadal terbang dan barang lain yang jarang terlihat di sisi Teluk bagian Thailand, sedangkan sepeda motor melewati jalan tanah merah untuk melewati peternakan mutiara dan pelabuhan perikanan gaya lama.

Penduduk desa, yang membasahi jalan dengan air dan menegakkan pagar ilalang untuk melindungi rumah mereka dari debu, mengumpulkan rumput laut dan menangkap cumi dengan jaring menggunakan derek buatan sendiri.

Cadangan hutan lindung di Phu Quoc memiliki air terjun tempat pemuda Vietnam dan turis asing menikmati pemandangan dan mendinginkan badan.

Kerajinan dari pulau ini telah meningkatkan ekonomi lokal – dan harga – sekitar 10 persen per tahun.


Cadangan hutan lindung di Phu Quoc memiliki air terjun tempat pemuda Vietnam dan turis asing menikmati pemandangan dan mendinginkan badan.

Dua juta wisatawan tahun 2020

Di tengah rencana pemerintah untuk memperluas bandara Duong Dong agar dapat menampung penerbangan internasional, Phu Quoc – pulau terbesar di Vietnam dengan luas 574 kilometer persegi – berkembang sangat cepat.

Pemerintah berencana untuk meningkatkan kedatangan wisatawan tahunan dari 77 ribu pada 2010 menjadi 2 juta pada 2020, dan banyak investor dari Eropa, Thailand, Malaysia dan daratan Vietnam membeli tanah, membuka restoran, serta toko-toko menyelam.

Banyak veteran Thailand sudah membandingkan Phu Quoc dengan Koh Samui pada 1980-an, atau Koh Chang pada 1990-an.

“Pulau ini memiliki hutan yang terlindungi dengan sangat bagus serta ukurannya tak terlalu besar,” kata Jean-Marie Helleputte, seorang hakim dari Belgia yang membeli tanah beberapa tahun lalu di dekat Long Beach Phu Quoc dengan istrinya Thanh, pengasingan Vietnam yang telah kembali ke negara asalnya.

“Anda akan mendapati berbagai macam tanaman dan pohon-pohon dan pantai-pantainya juga sangat bagus. Warna alam di sini sangat indah, hijaunya berbeda-beda karena banyak hujan.”

Menurut dia, jalan-jalan baru membuat perjalanan lebih mudah, terutama pada musim hujan yang membuat jalan jadi berlumpur. Perusahaan taksi baru, dengan pengemudi yang mengenakan kemeja serta dasi, menurunkan biaya transportasi ke tingkat lebih wajar.

Meski begitu, seperti orang lain di pulau ini, Helleputte khawatir bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan dan pembangunan akan mengganggu ketenangan pulau. “Pemerintah Vietnam akan membuat pulau ini jadi Singapura Kecil,” katanya. “Penduduk Phu Quoc menghasilkan banyak uang dengan menjual tanah mereka ke orang asing untuk pembangunan hotel.”

Sanne Rasmussen, seorang instruktur dengan di Rainbow Divers, yang telah mengadakan perjalanan menyelam dari Phu Quoc selama 10 tahun, mengatakan meningkatnya jumlah wisatawan, hotel besar, dan jalan aspal akan menghilangkan ‘pesona kemurnian Vietnam’ dan mengubah pulau ini menjadi “kota yang sama dengan kota lain di seluruh dunia. ”


Menggunakan kayu kelapa lokal dan ilalang, pekerja konstruksi dan keluarga mereka bekerja cepat untuk membantu industri pariwisata Vietnam mengejar ketinggalan dengan Thailand.

Lokasi menyelam dan kelezatan lokal

“Menurut saya, pulau ini sama sekali tidak siap untuk menjadi pusat turis – kami mengalami pemadaman listrik dua hari sekali pada musim sibuk dan beberapa tempat tidak memiliki air panas.”

Setidaknya air di laut selalu memiliki suhu yang bagus untuk menyelam dan snorkeling.

Rasmussen mengatakan, perairan dangkal di sekitar pulau-pulau kecil cocok untuk penyelam pemula, dan penyelam ahli juga dapat mencari nudibranch, kerang Cowrie, hiu bambu dan kura-kura.

Menurutnya, Rainbow Divers baru saja menemukan sebuah situs rumput laut dengan naga laut dan melihat dugong, beberapa makhluk paling langka di Asia Tenggara.

Ikan warna-warni di perairan Phu Quoc mungkin mirip dengan ikan-ikan di tetangga mereka di Teluk Siam, tapi masakan Phu Quoc lebih dipengaruhi oleh sentuhan Prancis. Pulau ini juga menghasilkan lada lezat dan saus ikan nuoc mam.

Di antara kios-kios di keramaian pasar malam, Rasmussen menyebut favoritnya termasuk sarapan atau tapas di Mondo, yang dimiliki oleh pasangan Swedia, makanan Jerman di German B; Peppers Pizza, sebuah restoran di depan Hotel Viet Thanh; dan kopi di tempat bernama Mister Dung.

Untuk resor kelas atas, ia merekomendasikan Eden, Mango Bay dan terutama Chen La untuk berbulan madu, sementara penyelam banyak menginap di Hotel Viet Thanh.

Setengah jalan menyusuri pantai panjang dari kota Duong Dong kota, resort yang dikelola oleh keluarga Thai Tan Tien menawarkan bungalow baru yang luas untuk $ 20 per malam. Di sini Anda bisa tinggal dengan tenang dan memiliki dermaga di atas rawa menuju ke restoran pinggir pantai tempat wanita lokal giat memberikan pijat tradisional di pantai.

Untuk saat ini, Phu Quoc sudah cukup menyenangkan dalam bentuk sederhana, masih didominasi oleh keluarga lokal yang menyewakan sepeda motor untuk $ 5 sehari dan bungalow dengan $ 20 per malam.

Meskipun kurang memiliki pasir putih Thailand, pasir di pantai keemasan Phu Quoc lembut, dan menarik semakin banyak wisatawan.


Kesederhanaan hidup di pulau-pulau Thailand pada 1980an ini tetap terjaga di Pulau Phu Quoc.

Cara pergi ke sana

Wisatawan dari Saigon biasanya menggunakan penerbangan murah (sekitar $ 50-100) Vietnam Airlines, Mekong Air atau lainnya demi menghindari perjalanan bus yang panjang dan melelahkan melewati rawa-rawa Delta Mekong.

Tapi jembatan-jembatan baru dan jalan halus berarti perjalanan bus yang lebih cepat, lebih murah – perjalanan saya butuh waktu 5 jam – sampai ke pelabuhan Rach Gia, dan kemudian menggunakan hydrofoil cepat, sekitar dua jam, ke Phu Quoc.

Ha Tien, hanya satu jam naik feri dari Phu Quoc, adalah titik masuk ke Kamboja.

Sumber: http://id.travel.yahoo.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2011 in Artikel Menarik, Travelling