RSS

Arsip Harian: Mei 13, 2011

Kunci dan Syarat Masuk Surga

Suatu hari seseorang bertanya kepada rosul, “Wahai rosul, apakah saya bisa masuk SURGA jika saya melakukan sholat lima waktu, berpuasa romadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, serta tidak menambah atau mengurangi ajaranmu?”, rosul menjawab, “YA”.
Masuk surga merupakan visi hidup jangka panjang setiap muslim. Tiada permohonan yang terungkap dari lubuk dan ucapan setiap muslim selain bisa merasakan nikmat surgawi di akhirat kelak. Rosululloh memberikan sinyal, masuk surga bukanlah sesuatu yang mustahil. Semua orang bisa masuk surga, asalkan ia berpegang teguh di atas jalan yang digariskan Alloh dan rosulnya.
Ada banyak kunci yang perlu kita pahami dan amalkan, sebagai syarat meraih kenikmatan surgawi tersebut. Tiga diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Mengejawantahkan Islam sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam
Tujuan utama diturunkannya agama islam ialah memberi rahmat bagi seluruh alam beserta isinya. Ajarannya sedemikian rupa di-design oleh sang creator sesuai dengan fitrah manusia. Islam memberikan haluan berupa perintah dan larangan yang harus ditaati dalam segala aspek kehidupan.
Perintah dan larangan ini haruslah dilakukan dengan tegas dan konsistem. Jangan menghalalkan segala yang diharamkan, dan jangan pula mengharamkan atas segala yang dihalalkan. Rosululloh pernah didatangi tiga pemuda yang berikrar mengamalkan ibadah agar bisa masuk surga. Pemuda pertama berjanji tidak akan pernah menikah selama hidupnya, pemuda kedua tidak akan pernah tidur agar bisa melakukan ibadah terus, dan pemuda ketiga akan berpuasa setiap hari. Mendengar ucapan ini, nabi-pun marah, dan mengatakan,”Saya adalah orang yang paling taqwa, dan saya menikah, tidur dan juga makan”.
Jadi, pola kehidupan haruslah diselaraskan dengan apa-apa yang dicontohkan rosul dengan baik dan benar. Berhati-hati dengan rayuan syetan yang senantiasa menggiring manusia kepada kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani, sekalipun mereka masuk ke suatu lubang.

2. Perlu Membangun Rasa Rindu pada Surga
Belajar dari kisah para sahabat, sering kali mereka mengajukan pertanyaan kepada nabi yang bunyinya, “Beritahu kami amalan yang dapat memasukkan ke surga?”. Mereka sangatlah merindukan surga. Pola kehidupannya dibangun dengan amalan-amalan yang dapat memasukkan diri ke surga.
Rosulpun kelihatan sekali membangkitkan rasa rindu surga di kalangan para sahabat, dengan memberikan beberapa amalan yang menjadikan pelakunya masuk surga, misalnya Beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya, melakukan sholat, zakat, puasa romadhan serta menjaga silaturahmi. Pastikan makanan dan minuman halal , banyak bergaul dengan orang sholeh, duduk di majelis ilmu, membiasakan saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran, serta memperbanyak istigfar.

3. Konsisten dan Komitmen
Prinsip beribadah di dalam agam islam, bukanlah sekali beramal, namun haruslah dilakukan dengan konsisten atau terus menerus. Meskipun nilai ibadah kecil namun dilakukan dengan konsisten akan lebih baik dibandingkan ibadah yang nilainya besar namun dilakukan sekali. Sedikit tapi terus menerus.
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Agama

 

Membeli Istri di Toko

Toko yang menjual istri, baru saja dibuka di sebuah kota . Di sana , laki2 dapat memilih istri.
Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.
“Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI”
Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok istri.Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai wanita tersebut.
Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih wanita di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko..
Lalu, seorang laki2 pun pergi ke toko “istri” tersebut untuk mencari istri…
Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 1 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan.
laki2 itu tersenyum,kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.
Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 2 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,dan senang anak kecil.Kembali laki2 itu naik ke lantai selanjutnya.
Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 3 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,senang anak kecil dan cantik banget.
” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.
Lalu sampailah laki2 itu di lantai 4 dan terdapat tulisan Lantai 4 :
wanita di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cantik banget dan suka membantu pekerjaan rumah.
”Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya”
Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 5 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil,cantik banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.
Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia
melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada wanita di lantai ini.Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk Anda yang tidak pernah puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “istri”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

Pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari cerita diatas?
yup..manusia adalah makhluk tak sempurna yang tak cukup dengan rasa puas.sedikit dia mendapatkan sesuatu,semakin semakin banyak dia berharap yang lebih.

(Sumber : http://agorepost.blogspot.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Inspirasi & Motivasi

 

Logam Ferro dan Non Ferro

Logam Ferro

Logam ferro adalah adalah logam besi(Fe). Besi merupakan logam yang penting dalam bidang teknik, tetapi besi murni terlalu lunak dan rapuh sebagai bahan kerja, bahan konstruksi dll. Oleh karena itu besi selalu bercampur dengan unsur lain, terutama zat arang/karbon (C). Sebutan besi dapat berarti :

  1. Besi murni dengan simbol kimia Fe yang hanya dapat diperoleh dengan jalan reaksi kimia.
  2. Besi teknik adalah yang sudah atau selalu bercampur dengan unsur lain.

Besi teknik terbagi atas tiga macam yaitu :

  1. Besi mentah atau besi kasar yang kadar karbonnya lebih besar dari 3,7%.
  2. Besi tuang yang kadar karbonnya antara 2,3 sampai 3,6 % dan tidak dapat ditempa. Disebut besi tuang kelabu karena karbon tidak bersenyawa secara kimia dengan besi melainkan sebagai  karbon yang lepas yang memberikan warna abu-abu kehitaman, dan disebut besi tuang putih karena karbon mampu bersenyawa dengan besi.
  3. Baja atau besi tempa yaitu kadar karbonnya kurang dari 1,7 % dan dapat ditempa.

Logam ferro juga disebut besi karbon atau baja karbon. Bahan dasarnya adalah unsur besi (Fe) dan karbon ( C) , tetapi sebenarnya juga mengandung unsur lain seperti : silisium, mangan, fosfor, belerang dan sebagainya yang kadarnya relatif rendah. Unsur-unsur dalam campuran itulah yang mempengaruhi sifat-sifat besi atau baja pada umumnya, tetapi unsur zat arang (karbon) yang paling besar pengaruhnya terhadap besi atau baja terutama kekerasannya.

Pembuatan besi atau baja dilakukan dengan mengolah bijih besi di dalam dapur tinggi yang akan menghasilkan besi kasar atau besi mentah. Besi kasar belum dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat benda jadi maupun setengah jadi, oleh karena itu, besi kasar itu masih harus diolah kembali di dalam dapur-dapur baja. Logam yang dihasilkan oleh dapur baja itulah yang dikatakan sebagai besi atau baja karbon, yaitu bahan untuk membuat benda jadi maupun setengah jadi.

Logam Non Ferro

Logam non ferro atau logam bukan besi adalah logam yang tidak mengandung unsur besi (Fe). Logam non ferro murni kebanyakan tidak digunakan begitu saja tanpa dipadukan dengan logam lain, karena biasanya sifat-sifatnya belum memenuhi syarat yang diinginkan. Kecuali logam non ferro murni, platina, emas dan perak tidak dipadukan karena sudah memiliki sifat yang baik, misalnya ketahanan kimia dan daya hantar listrik yang baik serta cukup kuat, sehingga dapat digunakan dalam keadaan murni. Tetapi karena harganya mahal, ketiga jenis logam ini hanya digunakan untuk keperluan khusus. Misalnya dalam teknik proses dan laboratorium di samping keperluan tertentu seperti perhiasan dan sejenisnya.

Logam non fero juga digunakan untuk campuran besi atau baja dengan tujuan memperbaiki sifat-sifat bajja. Dari jenis logam non ferro berat yang sering digunakan uintuk paduan baja antara lain, nekel, kromium, molebdenum, wolfram dan sebagainya. Sedangkan dari logam non ferro ringan antara lain: magnesium, titanium, kalsium dan sebagainya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Material

 

Proses Pembentukan Minyak Bumi

Membahas identifikasi minyak bumi tidak dapat lepas dari bahasan teori pembentukan minyak bumi dan kondisi pembentukannya yang membuat suatu minyak bumi menjadi spesifik dan tidak sama antara suatu minyak bumi dengan minyak bumi lainnya. Penjelasan ini lebih terujuk kepada aspek kimianya daripada dari aspek geologi. Pemahaman tentang proses pembentukan minyak bumi akan diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk menginterpretasikan hasil identifikasi. Ada banyak hipotesa tentang terbentuknya minyak bumi yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya adalah :

Teori Biogenesis (Organik)

Macqiur (Perancis, 1758) merupakan orang yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa minyak bumi berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kemudian M.W. Lamanosow (Rusia, 1763) juga mengemukakan hal yang sama. Pendapat di atas juga didukung oleh sarjana lainnya seperti, New Beery (1859), Engler (1909), Bruk (1936), Bearl (1938) dan Hofer. Mereka menyatakan bahwa: “minyak dan gas bumi berasal dari organisme laut yang telah mati berjuta-juta tahun yang lalu dan membentuk sebuah lapisan dalam perut bumi.”

Teori Abiogenesis (Anorganik)

Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain.

Dari sekian banyak hipotesa tersebut yang sering dikemukakan adalah Teori Biogenesis, karena lebih bisa. Teori pembentukan minyak bumi terus berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi dan teknik analisis minyak bumi, sampai kemudian pada tahun 1984 G. D. Hobson dalam tulisannya yang berjudul “The Occurrence and Origin of Oil and Gas”.

Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut.

Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme). Dalam proses ini, terjadi kebocoran kecil yang memungkinkan satu bagian kecil karbon yang tidak dibebaskan kembali ke atmosfir dalam bentuk CO2, tetapi mengalami transformasi yang akhirnya menjadi fosil yang dapat terbakar. Bahan bakar fosil ini jumlahnya hanya kecil sekali. Bahan organik yang mengalami oksidasi selama pemendaman. Akibatnya, bagian utama dari karbon organik dalam bentuk karbonat menjadi sangat kecil jumlahnya dalam batuan sedimen.

Pada mulanya senyawa tersebut (seperti karbohidrat, protein dan lemak) diproduksi oleh makhluk hidup sesuai dengan kebutuhannya, seperti untuk mempertahankan diri, untuk berkembang biak atau sebagai komponen fisik dan makhluk hidup itu. Komponen yang dimaksud dapat berupa konstituen sel, membran, pigmen, lemak, gula atau protein dari tumbuh-tumbuhan, cendawan, jamur, protozoa, bakteri, invertebrata ataupun binatang berdarah dingin dan panas, sehingga dapat ditemukan di udara, pada permukaan, dalam air atau dalam tanah.

gambar_19_8

Apabila makhluk hidup tersebut mati, maka 99,9% senyawa karbon dan makhluk hidup akan kembali mengalami siklus sebagai rantai makanan, sedangkan sisanya 0,1% senyawa karbon terjebak dalam tanah dan dalam sedimen. Inilah yang merupakan cikal bakal senyawa-senyawa fosil atau dikenal juga sebagai embrio minyak bumi.

Embrio ini mengalami perpindahan dan akan menumpuk di salah satu tempat yang kemungkinan menjadi reservoar dan ada yang hanyut bersama aliran air sehingga menumpuk di bawah dasar laut, dan ada juga karena perbedaan tekanan di bawah laut muncul ke permukaan lalu menumpuk di permukaan dan ada pula yang terendapkan di permukaan laut dalam yang arusnya kecil.

Embrio kecil ini menumpuk dalam kondisi lingkungan lembab, gelap dan berbau tidak sedap di antara mineral-mineral dan sedimen, lalu membentuk molekul besar yang dikenal dengan geopolimer. Senyawa-senyawa organik yang terpendam ini akan tetap dengan karakter masing-masing yang spesifik sesuai dengan bahan dan lingkungan pembentukannya. Selanjutnya senyawa organik ini akan mengalami proses geologi dalam perut bumi. Pertama akanmengalami proses diagenesis, dimana senyawa organik dan makhluk hidup sudah merupakan senyawa mati dan terkubur sampai 600 meter saja di bawah permukaan dan lingkungan bersuhu di bawah 50°C.

table_19_2

Pada kondisi ini senyawa-senyawa organik yang berasal dan makhluk hidup mulai kehilangan gugus beroksigen akibat reaksi dekarboksilasi dan dehidratasi. Semakin dalam pemendaman terjadi, semakin panas lingkungannya, penam-bahan kedalaman 30 – 40 m akan menaik-kan temperatur 1°C. Di kedalaman lebih dan 600 m sampai 3000 m, suhu pemendaman akan berkisar antara 50 – 150 °C, proses geologi kedua yang disebut katagenesis akan berlangsung, maka geopolimer yang terpendam mulal terurai akibat panas bumi.

gambar_19_9

Komponen-komponen minyak bumi pada proses ini mulai terbentuk dan senyawa–senyawa karakteristik yang berasal dan makhluk hidup tertentu kembali dibebaskan dari molekul. Bila kedalaman terus berlanjut ke arah pusat bumi, temperatur semakin naik, dan jika kedalaman melebihi 3000 m dan suhu di atas 150°C, maka bahan-bahan organik dapat terurai menjadi gas bermolekul kecil, dan proses ini disebut metagenesis.

Setelah proses geologi ini dilewati, minyak bumi sudah terbentuk bersama-sama dengan bio-marka. Fosil molekul yang sudah terbentuk ini akan mengalami perpindahan (migrasi) karena kondisi lingkungan atau kerak bumi yang selalu bergerak rata-rata sejauh 5 cm per tahun, sehingga akan ter-perangkap pada suatu batuan berpori, atau selanjutnya akan bermigrasi membentuk suatu sumur minyak. Apabila dicuplik batuan yang memenjara minyak ini (batuan induk) atau minyak yang terperangkap dalam rongga bumi, akan ditemukan fosil senyawa-senyawa organik. Fosil-fosil senyawa inilah yang ditentukan strukturnya menggunaan be-berapa metoda analisis, sehingga dapat menerangkan asal-usul fosil, bahan pembentuk, migrasi minyak bumi serta hubungan antara suatu minyak bumi dengan minyak bumi lain dan hubungan minyak bumi dengan batuan induk.

(Sumber: http://www.chem-is-try.org)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Artikel Engineering

 

Reservoir Minyak dan Gas Bumi

1. Pendahuluan

Teknik reservoir adalah suatu ilmu yang mempergunakan kaidah-kaidah ilmu alam dalam memecahkan persoalan-persoalan reservoir. Persoalan-persoalan yang dipecahkan di sini adalah menyangkut penentuan tempat, ukuran serta kinerja reservoir, baik selama produksi maupun  peramalan  untuk  masa  mendatang  sesuai  dengan  anggapan-anggapan  yang digunakan. Hal ini menyangkut apa yang diproduksikan, mekanisme pendorongan, jumlah cadangan minyak di tempat (oil in place), besarnya jumlah minyak yang biasa diperoleh/diproduksikan serta usaha-usaha lain dalam peningkatan recovery minyak.

reservoirReservoir minyak dan/atau gas bumi adalah suatu batuan yang berpori-pori dan permeable tempat minyak dan/atau gas bergerak serta berakumulasi. Melalui batuan reservoir ini fluida dapat bergerak ke arah titik serap (sumur-sumur produksi) dibawah pengaruh tekanan yang dimilikinya atau tekanan yang diberikan dari luar.

Suatu reservoir yang dapat mengandung minyak dan atau gas harus memiliki beberapa syarat  yang terdiri dari unsur-unsur :

  1. Batuan reservoir (reservoir rocks).
  2. Lapisan penutup (sealing cap rocks).
  3. Batuan asal (source rock).

1.1 Batuan Reservoir

Didefinisikan sebagai suatu wadah yang diisi dan dijenuhi minyak dan/atau gas, merupakan suatu lapisan berongga/berpori-pori. Secara teoritis semua batuan, baik batuan beku maupun batuan metaforf dapat bertindak sebagai batuan reservoir, tetapi pada kenyataan ternyata 99% batuan reservoir adalah batuan sedimen.

Jenis batuan reservoir ini akan berpengaruh terhadap besarnya porositas dan permeabilitas. Porositas merupakan perbandingan volume pori-pori terhadap volume batuan keseluruhan, sedangkan permeabilitas merupakan kemampuan dari medium berpori untuk mengalirkan

fluida yang dipengaruhi oleh ukuran butiran, bentuk butiran serta distribusi butiran. Disamping itu batuan reservoir akan dipengaruhi juga oleh fasa fluida yang mengisi pori-pori tersebut berhubungan atau tidak satu sama lainnya.

1.2 Lapisan Penutup

Minyak dan/atau gas terdapat di dalam reservoir. Untuk dapat menahan dan melindungi fluida tersebut, lapisan reservoir ini harus mempunyai penutup di bagial luar lapisannya. Sebagai penutup lapisan reservoir biasanva merupakan lapisan batuan yang rnempunyai sifat kedap (impermeabel), yaitu sifat yang tidak dapat meloloskan fluida yang dibatasinya.

Jadi lapisan penutup didefinisikan sebagai lapisan yang berada di bagian atas dan tepi reservoir yang dapat dan melindungi fluida yang berada di dalam lapisan di bawahnya, hal ini akan mengakumulasikan minyak dalam reservoir.

1.3 Batuan Asal

Pada saat terjadinya minyak dan/atau gas yang berasal dari organisme purba terdapat di dalam batuan asal (source rock), dengan kondisi tekanan dan temperatur tertentu kemudian berubah menjadi minyak atau gas bumi, kemudian bermigrasi dan terperangkap pada batuan berpori yang disebut sebagai batuan reservoir.

2. Sifat Batuan Reservoir

2.1 Porositas

Porositas didefinisikan sebagai perbandingan antara volume batuan yang tidak terisi oleh padatan  terhadap  volume  batuan  secara  keseluruhan.  Berdasarkan  sifat-sifat  batuan reservoir, maka porositas dapat dibagi lagi menjadi porositas effektif dan porositas absolut.

Porositas effektif yaitu perbandingan volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap volume batuan secara keseluruhan. Porositas absolut adalah perbandingan volume pori-pori total tanpa memandang saling berhubungan atau tidak, terhadap volume batuan secara keseluruhan.

2.2 Permeabilitas

Permeabilitas batuan didefinisikan sebagai kemampuan batuan tersebut untuk melewatkan fluida dalam medium berpori-pori yang saling berhubungan.

Dikenal tiga istilah untuk permeabilitas yaitu permeabilitis absolut, permeabilitas effektif dan permeabilitas relatif.

Permeabilitas absolut dipakai untuk aliran fluida satu fasa. Permeabilitas effektif digunakan untuk aliran yang terdiri dari dua phasa atau lebih yang dikenal sebagai : Ko, Kw, Kg. Permeabilitas  relatif adalah  perbandingan  permeabilitas  effektif  terhadap  permeabilitas absolut, ini tergantung pada jenis fluidanya.

2.3 Saturasi

Reservoir mengandung fluida-fluida berupa; minyak, gas, atau air. Saturasi didefisikan sebagai fraksi salah satu fluida terhadap pori-pori dari batuan. Di sini dikenal So, Sw, dan Sg,

di mana :

saturasi

Untuk  mendapatkan  harga  saturasi  dapat  dilakukan  di  laboratorium  dengan  prinsip penguapan air dan pelarutan minyak. Untuk ini dapat digunakan alat-alat : ASTM Extraction, Soxlet Extractor.

2.4 Kebasahan (wettability)

Kebasahan didefinisikan sebagai suatu kecenderungan suatu fluida untuk menyebar atau menempel pada permukaan padatan dengan adanya fluida lain yang immiscible.

Kecenderungan untuk menyebar atau menempel ini karena adanya gaya adhesi, yang merupakan faktor tegangan permukaan. Faktor inii pula yang menentukan fluida mana yang akan lebih membasahi suatu padatan.

energi-antar-muka

Untuk  menentukan  energi  antar  muka  sistem  di  atas,  biasanya  dapat  dilakukan  di laboratorium secara langsung. Harga θ disebut sebagai sudut kontak, berkisar antara 0o dan180o. Untuk θ > 90o, sifat kebasahan batuan reservoir disebut sebagai basah minyak (oil wet), sedangkan Untuk θ < 90o, sifat kebasahan batuan reservoir disebut sebagai basah air (water wet).

3. Tekanan Reservoir

Didefisikan sebagai tekanan fluida di dalam pori-pori reservoir, yang berada dalam keadaan setimbang, baik sebelum maupun sesudah dilakukannya suatu proses produksi.

Berdasarkan hasil penyelidikan, besarnya tekanan reservoir mengikuti suatu hubungan yang linier dengan kedalaman reservoir tersebut. Hal ini diinterpretasikan sebagai akibat dari penyingkapan perluasan formasi batuan reservoir tersebut ke permukaan, sehingga reservoir menerima tekanan hidrostatis fluida pengisi formasi. Berdasarkan ketentuan ini, maka pada umumnya gradient tekanan berkisar antara 0,435 psi/ft.

Dengan adanya tekanan overburden dari batuan di atasnya, gradient tekanan dapat lebih besar dari harga tersebut di atas, hal ini tergantung pada kedalaman reservoir. Dengan adanya kebocoran gas sebelum/selama umur geologi migrasi minyak, dapat mengakibatkan tekanan reservoir akan lebih rendah.

Besarnya tekanan reservoir dapat diketahui dengan merata-ratakan hasil pengukuran bottom hole pressure sumur statis. Pengukurannya dapat diperoleh langsung dengan pengukuran sub surface bomb.

Dengan  metoda  analisa  pressure  buildup,  sebagaimana  suatu  persamaan  telah disederhanakan oleh Horner, dapat diketahui bottom hole pressure sebagai fungsi dari waktu penutupan.

hole-pressure

Dalam sejarah produksi, besarnya tekanan akan selalu menurun. Kecepatan penurunannya tergantung pada pengaruh-pengaruh tenaga yang berada di luar reservoir, dalam hal ini adalah mekanisme pendorong.

4. Temperatur Reservoir

Temperatur reservoir merupakan fungsi dari kedalaman. Hubungan ini dinyatakan oleh gradient geothermal. Harga gradient geothermal itu berkisar antara 0,3 oF/100 ft sampai dengan 4 oF/ 100 ft.

5. Perubahan Phasa

Perubahan fasa sistem hidrokarbon dalam bentuk cairan dan gas merupakan fungsi dari tekanan, temperatur serta komposisinya.

Menurut Hawkin NF., fasa adalah bagian dan sistem yang sifat-sifatnya homogen dalam komposisi, memiliki batas permukaan secara fisis serta terpisah secara mekanis dengan fasa lainnya yang mungkin ada.

Fluida hidrokarbon suatu sistem yang heterogen, sangat dipengaruhi oleh jumlah komponen yang ada di dalamnya. Untuk itu analisa fasa fluida hidrokarbon dilakukan dalam berbagai komponen yang kemudian diinterpretasikan dalam  diagram tekanan dan temperatur.

Berdasarkan posisi tekanan dan temperatur pada diagram phasa, kita dapat membedakan berbagai type reservoir, misalnya gas condensate reservoir, gas reservoir dan lain-lain. Berdasarkan penomena perubahan fasa fluida ini, kita dapat merencanakan fasilitas yang baik untuk sistem produksi, separator, pemipaan serta storage/cara penyimpanannya.

6. Karakteristik fluida hidrokarbon

Fluida  reservoir  umumnya  terdiri  dari  minyak,  gas  dan  air  formasi.  Minyak  dan  gas kebanyakan merupakan campuran yang rumit berbagai senyawa hidrokarbon, yang terdiri dari golongan naftan, parafin, aromatik dan sejumlah kecil gabungan oksigen, nitrogen, dan belerang.

Karakteristik-karakteristik fluida hidrokarbon yang berhubungan dengan sifat fisis, dinyatakan dalam berbagai besaran :

  1. Faktor volume formasi gas.
  2. Kelarutan gas.
  3. Faktor volume formasi minyak.
  4. Faktor volume formasi dwi-fasa.
  5. Viskositas.
  6. Berat jenis (oAPI)

6.1 Faktor volume formasi gas (Bg)

Faktor volume formasi gas didefinisikan sebagal volume (dalam barrels) yang ditempati oleh suatu standard cubic feet gas (60 oF, 14,7 psi) bila dikembalikan pada keadaan temperatur dan tekanan reservoir sebagal berikut :

volume-formasi

6.2 Kelarutan gas dalam minyak (Rs)

Kelarutan gas (Rs) didefinisikan sebagai banyaknya cubic feet gas (dalam tekanan dan temperatur  standard)  yang  berada  dalam  larutan  minyak  mentah  satu  barrel  tangki pengumpulan minyak, ketika minyak dan gas kedua-duanya masih berada dalam keadaan temperatur dan tekanan reservoir.

Rs merupakan fungsi dari tekanan, untuk minyak mentah yang jenuh, penurunan tekanan akan nengakibatkan kelarutan gas menurun karena gas yang semula larut dalam minyak mentah pada tekanan yang lebih rendah. Untuk minyak mentah yang tak jenuh, penurunan tekanan sampai tekanan gelembung, tidak akan menurunkan kelarutan gas, tetapi setelah melewati tekanan gelembung, penurunan tekanan mengakibatkan menurunnya kelarutan gas.

6.3 Faktor volume formasi minyak (Bo)

Faktor volume formasi minyak (Bo) didefinisikan sebagai perbandingan V1 barrel minyak pada keadaan reservoir terhadap V2 barrel minyak pada tangki pengumpul (60 oF, 14,7 psi). V1 – V2  adalah berupa gas yang dibebaskan karena penurunan tekanan dan temperatur.

Penaksiran faktor volume formasi minyak dapat dilakukan dengan tiga cara, berdasarkan data-data yang tersedia dan prosen ketelitian yang dibutuhkan.

6.4 Faktor volume formasi dwi-fasa (Bt)

Faktor volume formasi dwi-fasa (Bt) didefinisikan sebagai volume yang ditempati oleh minyak sebanyak satu barrel tangki pengumpul ditambah dengan gas bebas yang semula larut dalam sejumlah minyak tersebut.

Harga Bt dapat ditentukan dan karakteristik cairan reservoir yang disebutkan terdahulu, yang digambarkan sebagai :

faktor-volume

6.5 Viskositas (μ)

Viskositas suatu cairan adalah suatu ukuran tentang besarnya keengganan cairan itu untuk mengalir. Viskositas didefinisikan sebagai besarnya gaya yang harus bekerja pada satu satuan luas bidang horizontal yang terpisah sejauh satu satuan jarak dan suatu bidang horizontal lain, agar relatip terhadap bidang kedua ini, bidang pertama bergerak sebesar satu satuan kecepatan. Diantara kedua bidang horizontal inii terdapat cairan yang dimaksud.

Umumnya viskositas dipengaruhi langsung oleh tekanan dan temperatur. Hubungan tersebut adalah :

  • Viskositas akan menurun dengan naiknya temperatur.
  • Viskositas akan naik dengan naiknya tekanan, dimana tekanan tersebut semata-mata untuk pemanfaatan cairan.
  • Viskositas akan naik dengan bertambahnya gas dalam larutan.

6.6 Berat jenis (oAPI)

Berat jenis (oAPI) minyak menunjukkan kualitas fluida hidrokarbon. Apakah hidrokarbon tersebut termasuk minyak ringan, gas atau minyak berat. Besaran ini dinyatakan dalam :

API

Semakin besar harga oAPI berarti berat jenis minyak semakin kecil dan sebaliknya.

7. Mekanisme Pendorongan

Berdasarkan mekanisme pendorongan  yang  menyebabkan  minyak  dan/atau  gas dapat bergerak ke titik serap (sumur produksi), reservoir minyak dan/atau gas dapat dibagi atas :

  1. Water drive reservoir
  2. Solution gas drive
  3. Gas cap drive reservoir
  4. Combination drive reservoir

7.1 Water drive reservoir

Pada  reservoir  dengan  type  pendorongan  “water  drive”,  energi  yang  menyebabkan perpindahan minyak dari reservoir ke titik serap adalah disebabkan oleh; pengembangan air, penyempitan pori-pori dari lapisan dan sumber air di permukaan bumi yang berhubungan dengan formasi yang mengandung 100% air (aquifer) sebagai akibat adanya penurunan tekanan selama produksi.

Air sebagai suatu fasa yang sering berada bersama-sama dengan minyak dan/atau gas dalam suatu reservoir yang mengandung hidrokarbon tersebut seringkali merupakan suatu fasa kontinu dalam suatu formasi sedimen yang berdekatan dengan reservoir tersebut.

Perubahan tekanan dalam reservoir minyak sebagai akibat dan  pada produksi minyak melalui sumur akan diteruskan kedalam aquifer. Terbentuknya gradient tekanan ini akan mengakibatkan  air  mengalir  ke  dalam  lapisan  minyak (merembes)  bila  permeabilitas disekitarnya memungkinkan. Secara umum dapat dikatakan bahwa aquifer merupakan suatu tenaga yang membantu dalam hal pendorongan minyak.

Dilihat dari sudut gerakan air dari aquifer ke dalam Iapisan minyak, maka aquifer dapat dibedakan atas 3 macam :

  1. Gerakan air dari bawah (bottom water drive).
  2. Gerakan air dari samping (edge water drive).
  3. Gerakan air dari bawah dan dari samping (bottom & edge water  drive).

7.1.1. Gerakan air dari bawah (bottom water drive)

Dalam hal ini, reservoir minyak terdapat pada puncak suatu batuan reservoir, sedangkan di bawahnya adalah air yang mengandung tenaga pendorongan. Tebal dan lapisan yang mengandung minyak relatif tipis dibandingkan tebal aquifer.

7.1.2. Gerakan air dari samping (edge water drive)

Dalam keadaan ini tenaga pendorongan minyak berasal dari aquifer dalam arah tidak vertikal dari bawah ke atas, tetapi dari samping.

7.1.3. Gerakan air dari bawah dan dari samping (bottom & edge water drive)

Pada keadaan ini tenaga pendorongan minyak berasal dari kombinasi antara “bottom water drive” dan “edge water drive”.

Dari kurva sejarah produksi suatu reservoir dengan water-drive, memperlihatkan bahwa pada permulaan produksi, tekanan akan turun dengan sedikit tajam. Karena air memerlukan waktu dulu untuk mengisi ruangan yang ditinggalkan oleh minyak yang diproduksi. Kemudian tekanan akan menurun secara perlahan-lahan.

Pada reservoir water drive, gas tidak memegang peranan, sehingga perbandingan produksi gas terhadap produksi minyak (GOR) dapat dianggap konstan. Sedangkan perbandingan produksi air terhadap produksi minyak (WOR) akan naik, karena air yang mendorong dari belakang mungkin saja akan melewati minyak yang didorongnya akibat dari sifat mobiIity-nya, sehingga air akan terproduksi. Recovery minyak dari type pendorongan “water drive” ini berkisar 30% – 60%.

7.2. Solution Gas Drive Reservoir

Pada reservoir dengan type pendorongan “solution gas drive” energi yang menyebabkan minyak bergerak ke titik serap berasal dari ekspansi volumetrik larutan gas yang berada dalam minyak dan pendesakan minyak akibat berkurangnya tekanan karena produksi. Hal ini akan menyebabkan gas yang larut di dalam minyak akan ke luar berupa gelembunggelembung yang tersebar merata di dalam phasa minyak. Penurunan tekanan selanjutnya akan menyebabkan gelembung-gelembung gas tadi akan berkembang, sehingga mendesak minyak untuk mengalir ke daerah yang bertekanan rendah.

Pada kurva sejarah produksi suatu lapangan yang reservoirnya mempunyai mekanisme pendorong “solution gas drive” akan memperlihatkan bahwa pada saat produksi baru dimulai, tekanan turun dengan perlahan dan selanjutnya menurun dengan cepat. Hal ini disebabkan karena pada saat pertama, gas belum bisa bergerak, karena saturasinya masih berada di bawah saturasi kritis, setelah saturasi kritis dilampaui, barulah tekanan turun dengan cepat.

Perbandingan gas terhadap minyak (GOR), terlihat mula-mula hampir konstan, selanjutnya akan naik dengan cepat, dan kemudian turun lagi. Hal ini disebabkan karena mula-mula saturasi gas masih berada dibawah saturasi kritisnya. Sehingga permeabilitasnya masih sama dengan nol. Setelah saturasi kritis dilampaui, gas mulai bergerak dan membentuk saturasi yang kontinu. Kemudian gas ikut terproduksi bersama minyak.

Semakin lama GOR semakin besar, ini disebabkan karena mobility gas lebih besar dari mobility minyak sehingga terjadi penyimpangan/slippage dimana gas bergerak lebih cepat dari minyak.

Oleh karena gas lebih banyak diproduksikan, lama kelamaan kandungan gasnya semakin berkurang sehingga recovery-nya akan turun. Recovery minyak dengan jenis “solution gas drive reservoir” berkisar 5 – 20 %.

7.3. Gas Cap Drive Reservoir

Pada reservoir dengan mekanisme pendorongan “gas cap drive” energi pendorongan berasal dari ekspansi gas bebas yang terdapat pada gas bebas (gas cap). Hal ini akan mendorong minyak ke arah posisi yang bertekanan rendah yaitu ke arah bawah struktur dan selanjutnya ke arah sumur produksi.

Gas yang berada di gas cap ini sudah ada sewaktu reservoir itu ditemukan atau bisa juga berasal dari gas yang terlarut dalam minyak dan akan ke luar dari zone minyak bila tekanan reservoirnya di bawah bubble point pressure.

Sejarah produksi dari reservoir dengan gas cap drive memperlihatkan suatu kurva dimana tekanan akan menurun lebih cepat dibandingkan dengan water drive reservoir. Sedangkan GOR-nya akan terus naik sampai akhirnya hanya gas yang terproduksi. Hal ini disebabkan karena mobilitas gas lebih besar dibandingkan dengan mobilitas minyak. Kemungkinan slippage dimana gas akan mendahului minyak, lebih besar sehingga gas ikut terproduksi. Akibatnya effisiensi pendorongannya akan berkurang dari semestinya. Recovery minyak pada jenis “gas cap reservoir“ berkisar 20 – 40 %.

7.4. Combination Drive Reservoir

Pada reservoir type ini, mekanisme pendorongan minyak dapat berasal dari kombinasi antara water drive dengan solution gas drive ataupun kombinasi antara water drive dengan gas cap drive. Pada banyak reservoir, keempat mekanisme pendorongan dapat bekerja secara simultan, tetapi biasanya salah satu atau dua yang lebih dominan.

8.  Perolehan Minyak Tahap Lanjut (Enhanced Oil Recovery)

Adalah tahap lanjut untuk memperoleh bagian minyak bumi yang masih tertinggal di dalam batuan reservoir pada tahap perolehan awal (primary recovery). Terdapat berbagai cara perolehan minyak tahap lanjut ini, yaitu dengan cara injeksi fluida tak tercampur (non miscible flood) : injeksi air, injeksi gas; injeksi fluida tercampur (miscible flood) : injeksi gas CO2, injeksi

gas tak reaktif, injeksi gas yang diperkaya, injeksi gas kering ; injeksi kimiawi (chemical injection) : injeksi alkalin, injeksi polimer, injeksi surfactant; injeksi termal (thermal injection) : injeksi air panas, injeksi uap air, pembakaran di lubang sumur dan lain-lain.

Dari : Buku Pintar Migas Indonesia, Reservoir Minyak Dan Gas Bumi oleh  Sudjati Rachmat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Artikel Engineering

 

Komposisi Crude Oil

Dari: Rangkuman Diskusi Mailing ListMigas Indonesia

Untuk mendapatkan komposisi suatu crude oil, salah satunya dapat dilakukan analisa di laboratorium dengan :

  1. Distillation (TBP, ASTM D86, dll). Hasilnya komposisi crude oil berupa HYPOTHETICAL COMPONENT berdasarkan boiling pointnya.
  2. Chromatograph. Hasilnya komposisi crude oil berupa komponen C6, C7, C8 dan seterusnya.

Pertanyaannya : apa kelebihan dan kekurangan dua metoda tersebut di atas dalam rangka untuk mendapatkan komposisi yang dapat mewakili sample crude oil?

Pertanyaan basic yang brilliant!

Jika kita memerlukan informasi dan ingin tahu detil komposisi kimianya secara presisi dan dalam hal ini, akurat (Karena harfiah ISO 17025 berbeda definisi presisi dan akurat) Jawabannya adalah chromatograp.

Meski Basic principal dari chromatograp adalah: physical SEPARATION! bagaimana cara chromatography bekerja? Komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan/dialirkan diantara 2 phase yaitu stationary phase bed dan mobile phase. Sejatinya maka tiap komponen akan mengalir dengan kecepatan yang berbeda ke dalam column (stationary) sehingga material yang memiliki daya sorption/desorption yang tinggi (derajat affinitas molekul rendah) maka lebih cepat keluar dari column (retention time).

Lalu akan diperoleh komposisi apa saja dalam crude yakni berupa komponen C6, C7, C8 dan seterusnya, dan berapa % molnya. Tapi, bagaimana dengan Distillasi? Distillation by TBP = True boiling point sejatinya sesuai dengan methode D2892 atau bisa D5236! Distilasi adalah juga proses SEPARATION! Sama bukan, lalu…..?

Distilasi adalah proses pemanasan liquid sampai mendidih (boiled) lalu ditangkaplah zat/senyawa yang menguap tadi dan dikondensasi. Boiling point setiap komponen menandakan identifikasi suatu sifat fisika keberadaan dari komponen tertentu.

Dari sini bisa membuat definisi secara tepat tentang Boiling point, yakni temperatur dimana tekanan uap dari fase liquid sama dengan tekanan eksternal (atau tekanan atmospheris acting on the surface of the liquid).

Dari beberapa literatur:

“Distillation is used to purify a compound by separating it from a non-volatile or less-volatile material. Because different compounds often have different boiling points, the components often separate from a mixture when the mixture is distilled”.

Dalam aplikasinya analisa Boiling point ditujukan untuk suatu rentang (range) tertentu, misalkan: crude oil pada hasil distilasi 200-250 oC menunjukkan kerosene yang terdiri dari C12 sampai C16. Mengapa suatu range? Karena biasanya sesuai metode dan kondisi instrumen distilasi, kita menaruh termometer dalam pot penangkap fase uap, namun demikian seharusnya kan kita mau mengukur temperatur sesungguhnya tepat pada titik vapor temperature!

Mengapa repot menentukan titik ini? Karena sejatinya fase liquid bisa saja dalam kondisi superheated atau malah terkontaminasi (tidak full pure), sehingga parameter boiling temperature bukanlah suatu ukuran nilai yang akurat. Setelah run distillation, kita menemukan hasil komposisi crude oil berupa HYPOTHETICAL COMPONENT (dengan bahasa lain: menurut teori/sifat umum/ hypothetical).

Sekarang pertanyaannya mau diapakan data sampel tersebut. Kalau ingin digunakan untuk membuat proses simulasi, perlu juga ditentukan bahwa semakin besar C-nya, maka semakin less accurate analisis dari sebuah process simulation software.

Mengapa? Karena semakin jarang real plant data yang tersedia dalam bentuk VLE, LLE, atau VLLE-nya yang dapat digunakan oleh process simulation software development people untuk cross-check keakuratan hasilnya.

Makanya sering kalo sudah dihadapkan dengan crude oil, engineers lebih memilih berdasarkan boiling point analysis (hypothetical components) karena sudah tersedia korelasi yang cukup akurat yang telah di cross-check vs real plant data.

Namun, analisa komposisi via chromatograph punya kelemahan yaitu pendefinisian elemen yang akan dikenali. Setiap kolom di chromatograph tersebut adalah sensitif untuk mengenali elemen-elemen di dalam minyak mentah.

Komposisi di dalam minyak mentah banyak sekali, apa harus kita ketahui semua? Tentunya tidak, tergantung proses simulasi yang akan di-run. Jika hanya me-run pressure drop, what is the point having detail and complete element. Sebaliknya, jika ingin me-run distilasi atau fraksinasi, tentunya kerja yang tidak ringan jika setiap elemen di dalam minyak mentah umpan didefinisikan. Belum lagi kesalahan rambatan ketika pendefinisiannya.

Yang patut diperhatikan adalah ‘Garbage in garbage out’ Sebagai engineer, kita harus mempunyai measurement feedback yang bisa menentukan kriteria keberhasilan, paling tidak dari data yang sudah terpublish. Jangan sampai kita nge-run, tetapi kita tidak tahu hasil run kita tersebut valid atau tidak.

Apapun data yang kita input, jika bisa dikalibrasi dengan data lapangan, atau paling tidak dengan literatur. Harusnya oke2 saja, asalkan kita tahu rentang keberlakuan simulasi kita tersebut. Mungkin ini adalah major lack dari process engineer ketika me-run proses simulasinya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Artikel Engineering

 

Penyulingan, Pemrosesan dan Penggunaan Minyak Bumi

1. Pendahuluan

Minyak mentah (petroleum) adalah campuran yang kompleks, terutama terdiri dari hidrokarbon bersama-sama dengan sejumlah kecil komponen yang mengandung sulfur, oksigen dan nitrogen dan sangat sedikit komponen yang mengandung logam.

Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah:

1. Alkana (parafin)  :  CnH2n + 2
Alkana  ini  memiliki  rantai  lurus  dan  bercabang,  fraksi  ini  merupakan  yang terrbesar di dalam minyak mentah.

2. Siklo alkana (napten) :   CnH2n
Sikloalkana ada yang memiliki cincin 5 (lima) yaitu siklopentana ataupun cincin 6 (enam) yaitu sikloheksana.

Siklohexana

3. Aromatik :   CnH2n -6
Aromatik memiliki cincin 6 (enam)

Napten

Aromatik  hanya  terdapat  dalam  jumlah  kecil,  tetapi  sangat  diperlukan  dalam bensin karena :
– Memiliki harga anti knock yang tinggi
– Stabilitas penyimpanan yang baik
– Dan kegunaannya yang lain sebagai bahan bakar (fuels)

Proporsi dari ketiga tipe hidrokarbon sangat tergantung pada sumber dari minyak bumi. Pada umumnya alkana merupakan hidrokarbon yang terbanyak, tetapi kadang-kadang  (disebut sebagai crude napthenic) mengandung sikloalkana sebagai komponen yang terbesar, sedangkan aromatik selalu  merupakan komponen yang paling sedikit.

Pengilangan/penyulingan  (refining) adalah proses perubahan minyak mentah menjadi  produk  yang  dapat  dijual  (marketeble  product)  melalui  kombinasi  proses fisika   dan  kimia.  Produk  yang  dihasilkan  dari   proses  pengilangan/penyulingan tersebut antara lain:

1. Light destilates adalah komponen dengan berat molekul terkecil.
a. Gasoline (Amerika Serikat) atau motor spirit  (Inggris) atau bensin  (Indonesia) memiliki titik didih terendah dan merupakan produk kunci dalam    penyulingan  yang digunakan sebagai bahan pembakar motor (:t 45% dari minyak mentah diproses untuk menghasilkan gasolin.
b. Naphta adalah material yang memiliki titik didih antara gasolin dan kerasin.
Beberapa naphta digunakan sebagai :
– Pelarut dry cleaning (pencuci)
– Pelarut karet
– Bahan awal etilen
– Dalam kemileteran digunakan sebagai bahan bakar jet dikenanl sebagai jP-4
c. Kerosin memiliki titik didih tertinggi dan biasanya digunakan sebagai :
– Minyak tanah
– Bahan bakar jet untuk air plane

2. Intermediate  destilates merupakan  minyak  gas  atau  bahan  bakar  diesel  yang penggunaannya  sebagai  bahan  bakar  transportasi  truk-truk  berat,  kereta  api, kapal kecil komersial, peralatan pertanian dan lain-lain.

3. Heavy  destilates merupakan  komponen  dengan  berat  molekul  tinggi.  Fraksi  ini biasanya dirubah menjadi minyak pelumas  (lubricant oils), minyak dengan berat jenis tinggi dari bahan bakar, lilin dan stock cracking.

4. Residu termasuk aspal, residu bahan bakar minyak dan petrolatum.

2. Fraksi Minyak Bumi
Proses  pertama  dalam  pemrosesan  minyak  bumi  adalah  fraksionasi  dari minyak mentah dengan menggunakan proses destilasi bertingkat, adapun hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Tabel

Sisa:     1. Minyak bisa menguap : Minyak-minyak pelumas, lilin, parafin dan vaselin.
2. Bahan yang tidak bisa menguap : aspal dan arang minyak bumi.

a. Fraksi Gas
Gas  alam  dapat  diperoleh  secara  terpisah  maupun  bersama-sama  dengan minyak  bumi.  Gas  alam  sebagian  besar  terdiri  dari  alkana  berantai  karbon  rendah yaitu  antara  lain  metana,  etana,  propana,  butana  dan  iso-butana.  Gas  alam  dapat dipergunakan sebagai:

1. Bahan bakar rumah tangga atau pabrik Gas alam merupakan bahan bakar yang paling bersih dan praktis, tetapi gas alam  mempunyai  keburukan  yaitu  sifatnya  yang  tidak  berbaun  (bila  dibandingkan dengan  gas  dari  batubara)  sehingga  sering  terjadi  kecelakaan  karena  bocor.  Oleh karena itu kadang-kadang gas ini diberi “bau” yaitu sedikit zat yang berbau sekali.

Propana  yang  merupakan  salah  satu  fraksi  gas  pada  perusahaan  biasanya digunakan sebagai :
– Mengelas paduan-paduan tembaga, alumunium dan magnesium. – Mengelas besi tuang.
– Menyolder dan mengelas solder.
– Menyemprot Jogam.
– Memotong besi dengan gas karbit.
– Penerangan pantai.

Butana dipakai dalam rumah tangga sebagai :

– Pemanas ruangan.
– Penerangan.
– Pemakaian di dapur.
Butana mempunyai batas meledak yang lebih kecil bila dibandingkan dengan propana.

2. Karbon hitam (Carbon Black)
Karbon   hitam     (Carbon   black)   adalah   arang   harus   yang   dibuat   oleh pembakaran yang tidak sempurna. Pegunaannya antara lain sebagai :       – Bahan dalam pembuatan cat, tinta cetak dan tinta Gina.
– Zat pengisi pada karet terutama dalam pembuatan ban-ban mobil dan sepeda.
Karbon  hitam  dibuat  dengan  membawa  nyala  gas  bumi  ke  sebuah  bidang datar  yang  didinginkan,  arang  yang  terbentuk  kemudian  dipisahkan dari  bidang ini dan dibagi berdasarkan kehalusannya. Metana yang mengandung  75% karbon akan menghasilkan 4 atau 4,5% zat penghitam dan sisanya hilang sebagai asap, zat asam arang dan sebagainya.

3. Tujuan-tujuan Sintesis
Hasil  sintesis  dibuat  dengan  oksidasi  zat-zat  hidrokarbon  dari  gas  alamo Proses pembuatan lainnya, yaitu :
–   Pembuatan zat cair dari metana.
–  Pembuatan  bensin-bensin  untuk  kapal  terbang  yang  bernilai  tinggi  dengan  cara menggandeng (alkylering) iso-butana dengan butena-butena.

b. Bensin
Bensin dapat dibuat dengan beberapa cara, antara lain yaitu ;
1. Penyulingan langsung dari minyak bumi (bensin straight run), dimana kualitasnya
tergantung  pada  susunan  kimia  dari  bahan-bahan  dasar.  Bila  mengandung
banyak aromatik-aromatik dan napthen-naphten akan menghasilkan bensin yang
tidak mengetok (anti knocking).
2.  Merengkah  (cracking)  dari  hasil-hasil  minyak  bumi  berat,  misalnya  dari  minyak
gas dan residu.
3.  Merengkah (retor ming) bensin berat dari kualitas yang kurang baik.
4.  Sintesis dari zat-zat berkarbon rendah.

Bensin biasanya digunakan sebagai :

1. Bahan bakar motor
Sebagai  bahan  bakar  motor  ada  beberapa  sifat  yang  diperhatikan  untuk menentukan baik atau tidaknya bensin tersebut.
* Keadaan terbang (titik embun)
Gangguan yang disebabkan oleh adanya gelembung-gelembung gas didalam karburator dari sebuah motor yang disebabkan oleh adanya kadar yang terlalu tinggi dari fraksi-fraksi yang sangat ringan dalam bensin. Hal ini terutama disebabkan oleh terlalu  banyaknya  propana  dan  butana  yang  berasal  dari  bensin.  Gelembunggelembung gas yang terdapat dalam keadaan tertentu dapat menutup lubang-lubang perecik yang sempit dan pengisian bensin akan terhenti.

* Kecendrungan mengetok (knocking)
Ketika rasio tekanan dari motor relatif tinggi, pembakaran bisa menyebabkan peletusan (peledakan) didalam sijinder, sehingga :
– Timbulnya kebisingan knock
– Kekuatan berkurang
– Menyebabkan kerusakan mesin

Hidrokarbon rantai bercabang dan aromatik sangat mengurangi kecendrungan dari  bahan  bakar  yang  menyebabkan  knocking,  misalnya  2,2,4  trimetil  pentana iso-oktan) adalah anti fuels. Harga yang tinggi dari bilangan oktan mengakibatkan makin baik melawan knocking. Mesin automibil modern memerlukan bahan bakar dengan bilangan oktan antara 90 dan 100, semakin tinggi rasio penekanan (compression) maka diperlukan bilangan oktan yang tinggi pula.

Bilangan  oktan  dapat  dinaikkan  dengan  menambahkan  beberapa  substansi, antara lain fefraefyl lead  (TEL) dan feframefyl lead  (l-MI) yang ditambahkan da!am bensin  dengan  kuantitas  yang  kecil  karena dikuatirkan apabila ditambahkan terlalu banyak  efek  timah  bagi  lingkungan.  TEL  (Pb(C2Hs)4)  dibuat  dari  campuran  timah hitam dengan natrium dan eti!klorida, reaksinya :

TEL
TEL

* Keadaan “damar” dan stabilitas penyimpanan
Damar  dapat  terbentuk  karena  adanya  alkena-alkena yang mempunyai satu ikatan ganda sehingga berpotensi  untuk berpolirherisasi membentuk   molekul-molekul yang lebih besar. Pembentukan damar ini dipercepat oleh adanya zat asam di udara, seperti peroksiden. Kerugian yang disebabkan oleh pembentukan damar ini antara lain;
–  Bahan  ini  dapat  menempel  pada  beberapa  tempat  dalam  motor, antara  lain saluran-saluran gas dan pada kutub yang dapat mengakibatkan kerusakan pada motor.
–  Menurunkan bilangan oktan karena hilangnya alkena-alkena dari bensin.
Pembentukan  damar  dapat  dicegah  dengan  penambahan  senyawa-senyawa dari tipe poliphenol dan aminophenol, seperti hidroquinon dan p-aminophen.

* Titik beku
Jika  dalam  bensin  terdapat  prosentasi  yang  tinggi  dari  aromatik-aromatik  tertentu maka  pada  waktu  pendinginan,  aromatik  itu  akan  mengkristal  dari  mengakibatkan tertutupnya  lubang-lubang  alai  penyemprotan  dalam  karburator.  Titik  beku  ini terutama dipengaruhi oleh benzen (titik beku benzen murni ± 5ºC).

* Kadar belerang
Kerugian yang disebabkan bila kadar belerang terlalu tinggi, adalah :
– Memberikan bau yang tidak enak dari gas-gas yang dihasilkan.
– Mengakibatkan  korosi  dari  bagian-bagian  logam, seperti  rusaknya silinder-silinder yang disebabkan oleh asam yang mengembun pada didnding silinder.
– Mempunyai pengaruh yang tidak baik terhadap bilangan oktan.

2. Bahan Ekstraksi, Pelarut dan Pembersih

Sebelum   digunakan   sebaagi   pengekstraksi   bensin   di   fraksinasi   dengan destilasi bertingkat menjadi fraksi yang lebih kecil. Bensin biasanya digunakan untuk mengekstraksi  berbagai  bahan,  seperti  minyak  kedelai,  minyak  kacang  tanah, minyak kelapa dan bahan-bahan alam lain.

Sebagai  bahan  pelarut  bagi  karet  digunakan  fraksi  dengan titik didih antara 80 -130°C dan 100 -130°C. Larutan karet ini biasanya digunakan untuk :
– Mencelupkan kanvas pada pembuatan ban.
– Melekatkan karet.
– Perekat-perekat untuk industri sepatu.
– Larutan untuk pasta-pasta karet untuk memadatkan dan melaburkan tenunan.

Bensin  juga  dapat  digunakan sebagai  bahan pembersih yaitu membersihkan secara  kimia  dengan  cara  diuapkan.  Keuntungan  menggunakan  bensin  sebagai bahan pembersih adalah:
–  Bensin  memiliki  titik  didih  rendah  sehingga  barang-barang  yang  dicuci  lekas menjadi kering dan baunya cepat hilang.
–  Tidak mudah terbakar di ruang terbuka.
–  Kualitas dari bahan wol tahan terhadap ini.

3. Bahan bakar penerangan dan pemanasan
Bensin digunakan pada lampu-lampu tambang dimana tidak terdapat tenaga listrik. Dan sebagai pemanas digunakan pada:
–    Lampu soldir dan lampu pembakar cat.
–    Penghangus yang dapat menghilangkan serat-serat yang menonjol dari tenunan dan rambut kulit.

C. Kerosin

Pemakaian  kerasin  sebagai  penerangan  di  negara-negara  maju  semakin berkurang,  sekarang  kerasin  digunakan  untuk  pemenasan.  Pemakaian  terpenting dari kerasin antara lain:
1. Minyak Lampu
Kerosin sebagai minyak lampu dihasilkan dengan jalan penyulingan langsung, sifat-sifat yang harus diperhatikan bila kerasin digunakan sebagai minyak lampu adalah :

* Warna
Kerosin dibagai dalam berbagai kelas warna:

– Water spirit (tidak berwarna)
– Prime spirit
– Standar spirit

Di India, pemakai di pedalaman tidak mau membeli kerosin putih karena mengira ini adalah air dan mengira hanya yang berwarna kuning atau sawo matang saja yang dapat membakar dengan baik.

* Sifat bakar
Nyala kerasin tergantung pada susunan kimia dari minyak tanah :
– Jika mengandung banyak aromatik maka apinya tidak dapat dibesarkan karena apinya mulai berarang.
– Alkana-alkana memiliki nyala api yang paling baik.
– Sifat bakar napthen terletak antara aromatik dan alkana.

* Viskositas
Minyak  dalam  lampu  kerasin  mengalir  ke  sumbu  karena  adanya  gaya  kapiler dalam saluran-saluran sempit antara serat-serat sumbu.
Aliran  kerosin  tergantung  pada  viskositas  yaitu  jika  minyak  cair  kental  dan lampu  mempunyai  tinggi-naik  yang  besar  maka  api  akan  tetap  rendah  dan sumbu menjadi arang (hangus) karena kekurangan minyak.
* Kadar belerang
Sama seperti kadar belerang pada bensin.

2. Bahan bakar untuk pemanasan untuk memasak
Macam-macam alat pembakar kerosin:
– Alat pembakar dengan sumbu gepeng: baunya tidak enak.
– Alat   pembakar   dengan   sumbu   bulat:   mempunyai   pengisian   hawa   yang dipusatkan.
– Alat pembakar dengan pengabutan tekan: merek dagang primus
3. Bahan bakar motor
Motor-motor yang menggunakan kerosin sebagai bahan bakar adalah :

– Alat-alat pertanian (traktor).
– Kapal perikanan.
– Pesawat penerangan listrik kecil.
Motor ini selain memiliki sebuah karburator juga mempunyai alat penguap untuk kerosin. Motor ini jalannya dimulai dengan bensin dan dilanjutkan dengan kerosin kalau alat penguap sudah cukup panas. Motor ini akan berjalan dengan baik bila kadar aromatik didalam bensin tinggi.
4.   Bahan pelart untuk bitumen
Kerosin jenis white spirit sering digunakan sebagai pelarut untuk bitumen aspal.
5.   Bahan pelarut untuk insektisida
Bubuk  serangga  dibuat  dari  bunga  Chrysant  (Pyerlhrum  cinerarieotollum)  yang telah  dikeringkan  dan  dihaluskan,  sebagai  bahan  pelarut  digunakan  kerosin. Untuk keperluan ini kerasin harus mempunyai bau yang enak atau biasanya obat semprot itu mengandung bahan pengharum.

d. Minyak Gas

Minyak  gas  pada  awalnya  banyak  digunakan  sebagai  penerangan  dalam  gerbong kereta  api,  tetapi  sekarang  sebagian  telah  diganti  oleh  listrik  karena  lebih  mudah dipakai dan sedikit bahaya kebakaran jika ada kecelakaan kereta api.
Minyak gas juga digunakan sebagai :
–   Bahan bakar untuk motor diesel.
–  Pesawat-pesawat  pemanasan  pusat  otomatis  dengan nama minyak bakar untuk keperluan rumah tangga, biasanya adalah minyak gas tanpa bagian-bagian residual.
Seperti pada bensin untuk menaikkan bilangan oktan pada minyak gas maka perlu ditambahkan :
–  Persenyawaan yang mengandung banyak sekali zat asam, misalnya amilnitrit dan etilnitrit. Untuk memperoleh hasil yang nyata maka  persentasenya  harus  besar yaitu kira-kira 5% sehingga pemakaian senyawa ini menjadi mahal.
– Persenyawaan   yang   penggunaannya   lebih   sedikit   peroksida (peroxyden) dan berbagai persenyawaan organik, dipakai 0,5% untuk menaikkan  10  atau  15  titik bilangan oktan.

e. Minyak Bakar
Walaupun setiap minyak yang dibakar dapat dinamakan minyak bakar tetapi nama ini  biasanya  hanya  digunakan  untuk  bahan  bakar  residual  dan  untuk  bahan  bakar sulingan.  Bahan  bakar  residua!  biasanya  diperoleh  dengan  cara  mengentalkan minyak bumi atau merengkah minyak gas dan residu minyak tanah.
Bahan bakar digunakan sebagai :
– Motor diesel tipe besar.
– Minyak  yang  dinyalakan  dengan  pembakar  dalam  tungku  masak  yang  digunakan untuk :
– Memproduksi uap
– Pengerjaan panas dari logam
– Mencairkan hasil perindustrian
– Membakar batu, emaile, dan sebagainya.

Sifat-sifat yang harus ada pada minyak bakar adalah :

* Memiliki batas viskositas tertentu
Viskositas minyak bakar terletak antara viskositas minyak gas yaitu kira-kira  4 cs =  1,30E pada  50°C dan kira-kira  550/650 cs  =  75/850E pada  50°C. Minyak bakar yang lebih encer diperlukan untuk pesawat bakar yang lebih kecil, misalnya untuk alat pemanasan sentral otomatis dalam rumah.
* Banyaknya panas yang diberikan
Kalor pembakaran minyak bakar batasnya kira-kira 10.000 dan 10.550 cal/g.

* Kadar belerang
Lebih  penting  pada  minyak  diesel  daripada  minyak  bakar  karena  pada  minyak
disesi  belerang  dapat  menyebabkan  kerusakan  silinder  dan  kerosi  dari  sistem
buang.
* Titik beku
–   Mempunyai titik beku maksimal tertentu.
–  Biasanya  titik  beku  tergantung  pada  perlakuan  terlebih  dahulu  yang  dikerjakan terhadap  bahan. Misalnya minyak bakar sebagian terdiri dari  residu  cracking yang sesudah dipanaskan hingga 1000C memiliki titik didih -210C, tetapi sesudah dibiarkan untuk waktu yang lama titik beku menjadi 1500C.

3. Pemrosesan Minyak Bumi
Pada pemrosesan minyak bumi melibatkan 2 proses utama, yaitu :
1. Proses pemisahan (separation processes)
2. Proses konversi (convertion processes)
Proses  pengilangan (refines)  pertama-tama  adalah  mengubah  komponen minyak menjadi fraksi-fraksi yang laku dijual  berupa  beberapa  tipe  dari  destilasi.

Beberapa  perlakuan  kimia  dan  pemanasan  dilakukan  untuk  memperbaiki  kualitas dari  produk  minyak  mentah yang diperoleh. Misalnya pada tahun  1912 permintaan gasolin melebihi supply dan untuk memenuhi permintaan tersebut maka digunakan proses  “pemanasan”  dan  “tekanan”  yang  tinggi  untuk  mengubah  fraksi  yang  tidak diharapkan. Molekul  besar menjadi  yang lebih kecil dalam range titik didih gasolin, proses ini disebut cracking.

a. Proses Pemisahan (Separation Processes)

Unit operasi yang digunakan dalam penyulingan minyak biasanya sederhana tetapi yang kompleks adalah interkoneksi dan interaksinya.
Proses pemisahan tersebut adalah :
1. Destilasi
Bensin,  kerasin  dan  minyak  gas  biasanya  disuling  pada  tekanan  atmosfer,fraksi-fraksi  minyak pelumas akan mencapai  suhu yang lebih tinggi dimana zat-zat hidrokarbon  mulai  terurai  (biasanya  kira-kira  antara  suhu  375  -400°C)  karena  itu lebih baik jika minyak  pelumas  disuling   dengan   tekanan   yang   diturunkan.
Pengurangan tekanan diperoleh dengan menggunakan sebuah pompa vakum (vacum pump).

2. Absorpsi
Umumnya digunakan untuk memisahkan zat yang bertitik didih tinggi dengan gas. Minyak gas digunakan untuk menyerap gasolin alami dari gas-gas basah. Gasgas dikeluarkan dari tank penyimpanan gas sebagai hasil dari pemanasan matahari yang  kemudian  diserap  ulang  oleh  tanaman.  Steam  stripping  pada  umumnya digunakan untuk mengabsorpsi hidrokarbon fraksi ringan dan memperbaiki kapasitas absorpsi minyak gas.

Proses ini dilakukan terutama dalam hal-hal sebagai berikut:
–    Untuk  mendapatkan  fraksi-fraksi  gasolin  alami  yang  dapat  dicampurkan pada bensin.
–    Untuk  pemisahan  gas-gas  rekahan  dalam  suatu  fraksi  yang  sangat  ringan (misalnya fraksi yang terdiri dari zat hidrogen, metana, etana)  dan  fraksi  yang lebih berat yaitu yang mempunyai komponen-komponen yang lebih tinggi.
-Untuk menghasilkan bensin-bensin yang dapat dipakai dari berbagai gas ampas dari suatu instalasi penghalus.

3. Adsorpsi
Proses   adsorpsi   digunakan   untuk   memperoleh   material   berat   dari   gas. Pemakaian terpenting proses adsorpsi pada perindustrian minyak adalah :
–  Untuk  mendapatkan  bagian-bagian  berisi  bensin  (natural  gasoline) dari  gas-gas bumi, dalam hal ini digunakan arang aktif.
–  Untuk  menghilangkan  bagian-bagian  yang  memberikan  warna  dan  hal-hal  lain  yang tidak dikehendaki dari minyak, digunakan tanah liat untuk menghilangkan warna dan bauxiet (biji oksida-aluminium).

4. Filtrasi
Digunakan  untuk  memindahkan  endapan  lilin  dari  lilin  yang  mengandung destilat. Filtrasi dengan tanah liat digunakan untuk decolorisasi fraksi.

5. Kristalisasi
Sebelum di filtrasi lilin harus dikristalisasi untuk menyesuaikan ukuran kristal dengan cooling dan stirring. Lilin yang tidak diinginkan dipindahkan dan menjadi lilin mikrokristalin yang diperdagangkan.

6. Ekstraksi
Pengerjaan ini didasarkan pada pembagian dari  suatu bahan tertentu dalam dua bagian yang mempunyai sifat dapat larut yang berbeda.

b. Proses Konversi (conversion processes)

Hampir     70%   dari   minyak   mentah   di   proses   secara   konversi   di   USA,
mekanisme yang terjadi berupa pembentukan “ion karbonium” dan “radikal bebas”. Dibawah ini ada beberapa contoh reaksi konversi dasar yang penting:

1. Cracking atau Pyrolisis
Cracking   atau   pyirolisis   merupakan   proses   pemecahan   molekul-molekul hidrokarbon   besar   menjadi   molekul-molekul   yang   lebih   kecil   dengan   adanya pemanasan atau katalis.

Cracking

Dengan adanya pemanasan yang cukup dan katalis maka hidrokarbon parafin akan pecah menjadi dua atau lebih fragmen dan salah satunya berupa olefin. Semua reaksi   cracking  adalah  endotermik  dan  melibatkan  energi  yang  tinggi.  Proses cracking meliputi:

* Proses cracking thermis murni
Proses  ini  merupakan  proses  pemecahan  molekul-molekul  besar  dari  zat hidrokarbon yang dilakukan pada suhu tinggi yang bekerja pada bahan awal selama waktu tertentu.

Pada  pelaksanaannya  tidak  mungkin  mengatur  produk  yang dihasilkan pada suatu proses cracking, biasanya selain   menghasilkan   bensin (gasoline)   juga mengandung molekul-molekul yang lebih kecil (gas) dan molekul-molekul yang lebih besar (memiliki titik didih yang lebih tinggi dari bensin).
Proses cracking dilakukan untuk menghasilkan fraksi-fraksi bensin yang berat yaitu yang mempunyai bilangan oktan yang buruk karena umunya bilangan oktan itu meningkat jika titik didihnya turun. Maka pada cracking bensin berat akan diperoleh suatu  perbaikan  dalam  kualitas  bahan  pembakarnya  yang  disebabkan  oleh  2  hal, yaitu:
– Penurunan titik didih rata-rata
– Terbentuknya alken
Oleh karena itu bilangan oktan dapat meningkat dengan sangat tinggi, misalnya dari 45-50 hingga 75-80.

* Proses cracking thermis dengan katalisator
Dengan  adanya  katalisator  maka  reaksi  cracking  dapat  terjadi  pada  suhu yang lebih rendah. Keuntungan dari proses thermis-katalisator adalah:
–  Perbandingan  antara  bensin  terhadap  gas  adalah  sangat  baik  karena  disebabkan oleh pendeknya waktu cracking pada suhu yang lebih rendah.
– Bensin yang dihasilkan menunjukkan angka oktan yang lebih baik.

Dengan  adanya  katalisator  dapat  terjadi  proses  isomerisasi,  dimana  alkenaalkena dengan rantai luru dirubah menjadi hidrokarbon bercabang, selanjtnya terjadi aromatik-aromatik   dalam   fraksi   bensin   yang   lebih   tinggi   yang   juga   dapat mempengaruhi bilangan oktan.

* Proses cracking dengan chlorida-aluminium (AlCl3) yang bebas air
Bila minyak dengan kadar aromatik rendah dipanaskan dengan AlCl3 bebas air pada  suhu  180-2000C  maka  akan  terbentuk  bensin  dalam  keadaan  dan  waktu tertentu. Bahan yang tidak mengandung aromatik  (misalnya parafin murni) dengan 2  atau  5%  AlCl3     dapat  merubah  sebagian  besar  (90%)  dari  bahan  itu  menjadi bensin, bagian lain akan ditingga/ sebagai arang dalam ketel. Anehnya pada proses ini  bensin  yang  dihasilkan  tidak  mengandung  alkena-alkena  tetapi  masih  memiliki bilangan  oktan  yang  lumayan,  hal  ini  mungkin  disebabkan  kerena  sebagian  besar alkena bercabang. Kerugian dari proses ini adalah :

– Mahal karena AlCl3   yang dipakai akan menyublim dan mengurai.- Bahan-bahan yang dapat dikerjakan terbatas.
– Pada saat reaksi berlangsung, banyak sekali gas asam garam maka harus memakai alat-alat yang tahan korosi.

2. Polimerisasi
Terbentuknya  polimer  antara  ikatan  molekul  yang  sama  yaitu  ikatan  bersama  dari light gasoline.

Polimerisasi

Proses polimerisasi merubah produk samping gas hirokarbon yang dihasilkan pada cracking menjadi hidrokarbok liquid yang bisa digunakan sebagai:
– Bahan bakar motor dan penerbangan yang memiliki bilangan oktan yang tinggi.
– Bahan baku petrokimia.

Bahan  dasar  utama  dalam  proses  polimerisasi  adalah  olefin     (hidrokarbon tidak  jenuh)  yang  diperoleh  dari  cracking  still.  Contohnya:  Propilen,  n-butilen, isobutilen.

Isobutelin

3. Alkilasi
Proses  alkilasi  merupakan  proses  penggabungan  olefin  dari  aromat  atau hidrokarbon parafin.

Alkilasi

Proses   alkilasi   adalah   eksotermik   dan   pada   dasarnya   sama   dengan polimerisasi,   hanya  berbeda  pada  bagian-bagian  dari   charging  stock  need  be unsaturated.  Sebagai  hasilnya  adalah  produk  alkilat  yang  tidak  mengandung  olefin dan memiliki bilangan oktan yang tinggi. Metode ini didasarkan pada reaktifitas dari karbon tersier dari isobutan dengan olefin, seperti propilen, butilen dan amilen.

4. Hidrogenasi
Proses ini adalah penambahan hidrogen pada olefin. Katalis hidrogen adalah logam yang dipilih tergantung pada senyawa yang akan di reduksi dan pada kondisi hidrogenasi, misalnya Pt, Pd, Ni, dan Cu.

Hidrogenasi

Disamping  untuk  menjenuhkan  ikatan  ganda,  hidrogenasi  dapat  digunakan untuk mengeliminasi elemen-elemen lain dari molekul, elemen ini termasuk oksigen, nitrogen, halogen dan sulfur.

5. Hydrocracking
Proses   hydrocracking   merupakan   penambahan   hidrogen   pada   proses cracking.

Hydocracking

6. Isomerisasi
Proses isomerisasi  merubah  struktur dari  atom dalam molekul tanpa adanya perubahan nomor atom.

Isomerisasi

Proses  ini  menjadi  penting  karena  dapat  menghasilkan  iso-butana  yang dibutuhkan untuk membuat alkilat sebagai dasar gasoline penerbangan.

Iso-butana

7. Reforming atau Aromatisasi
Reforming merupakan proses konversi dari naptha untuk memperoleh produk yang memiliki bilangan oktan yang tinggi, dalam proses ini biasanya menggunakan katalis rhenium, platinum dan chromium.

Toluene

Penulis :

Cut Fatimah Zuhra, Ssi. Msi

Jurusan Kimia
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara

© 2003 Digitized by USU digital library

DAFTAR PUSTAKA

Austin,  T.  George.  1985.  Shreves  Chemical  Process  Industries.  Mc  Graw  Hill  Book Company.
Fieser,  Louis  F  and  Mary  Fieser.    1950.  Organic  ChemistrySecond  Edition.  D.C. Heatch and Company: Boston.
Mc Murry, Jhon. 1992. Organic Chemistry. Third Edition. Brooks Publishing Company: California.
Nawawi, Harun.  1955. Minyak Bum; dan Hasil Minyak Bumi, Penggalian, Pengerjaan dan Pemakaiannya. Penerbit Buku Teknik: Jakarta.
Wiseman,  Peter.  1983.  An  Introduction  to  Industrial  Organic  Chemistry. Second Edition. Applied Science Publisher: London.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Artikel Engineering