RSS

Arsip Harian: Mei 10, 2011

Pantai Megalitikum di Ujung Barat Sumba

Sumba barat daya menunjukkan keindahannya melalui Kampung Ratenggaro. Kampung ini istimewa karena terletak pada sebuah tebing di tepi pantai Ratewoyo. Posisinya menghadap ke lautan lepas dengan ombak yang besar memecah karang. Lurus ke depan, tak ada lagi daratan hingga tiba di Afrika.

Kampung ini semula terletak di tanjung yang letaknya tepat di tepi pantai. Namun abrasi dan pasang laut menyebabkan air masuk ke rumah, sehingga penduduk memutuskan untuk memindahkan  kampung ke tebing yang lebih tinggi.

Pada bekas kampung di tepi pantai masih tersisa kumpulan kubur batu megalitikum. Bentuknya berbeda dengan kubur batu lempengan bertiang seperti di kota Waikabubak. Kubur batu yang ada di sini terbuat dari batu utuh dengan tinggi lebih dari dua meter dan dihiasi tulisan serta gambar kuno.

Duduk di samping kubur batu kuno menyaksikan pantai cantik dengan ombak berdebur, saya mengerti kenapa Sumba begitu dipuja akan kekayaan budaya dan kecantikan alamnya. Pantai berpasir putih lembut diapit karang dan tebing tinggi mengingatkan saya pada Tanah Lot di Bali. Tentu saja, pantai ini jauh lebih indah dan sangat sepi. Sayangnya saya datang saat mendung sehingga tak bisa menyaksikan senja.

Di pantai itu saya bertemu dengan bapak tua bernama Thomas yang memainkan alat musik tradisional yang terbuat dari kayu. Petikan dawainya menambah suasana magis yang rasa rasakan di tempat itu. Kelelahan akibat perjalanan dengan motor selama dua jam langsung hilang.

Kampung tersebut terletak di daerah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Kodi ada di ujung barat pulau Sumba. Tempat ini berjarak sekitar 80 kilometer dari kota tempat saya menginap, Waikabubak. Dilihat di peta jalan ini agak memutar, tapi inilah jalan yang kondisinya paling baik.

Kali ini saya diantar oleh pemandu bernama Timoteus Pingge, penduduk asli Sumba. Meskipun dia bilang jalan yang kami lewati kondisinya paling baik, tetap saja kami harus melewati kubangan dan jalan berlubang. Sepanjang perjalanan kami bertemu rombongan anak-anak sekolah yang tersenyum ramah dan menyapa setiap pengendara yang berpapasan dengan mereka. “Siang ibu, siang bapa,” kata mereka. Awan mendung menggantung sehingga beberapa kali kami harus berteduh dari hujan.

Sawah, rumah di tepi jalan dengan kubur batu di halaman, jurang dan hutan menjadi suguhan yang menakjubkan untuk mata sepanjang perjalanan. Sebelum berangkat, kami membeli oleh-oleh penduduk desa. Rokok untuk bapak-bapak, sirih pinang untuk para ibu dan permen untuk anak-anak.

Tinggal di daerah yang begitu cantik tak banyak berpengaruh terhadap kesejahteraan warga kampung. Hanya segelitir dari mereka yang mencari penghidupan dari laut. Apalagi, kampung ini hanya terdiri atas lima rumah adat. Kebakaran yang terjadi empat tahun lalu membakar nyaris seluruh rumah di kampung. Dari 13 rumah, hanya satu yang selamat.

Kampung adat Sumba memang punya risiko kebakaran yang tinggi. Atap rumah yang terbuat dari ilalang mudah terbakar pada musim kemarau. Api menjalar terbawa angin, sehingga kebakaran biasanya memusnahkan seluruh rumah di kawasan.

Membangun ulang rumah adat tidak murah. Warga kampung bercerita bahwa sebuah rumah membutuhkan empat tiang utama agar tetap tegak berdiri. “Satu kayu harganya sama dengan seekor kerbau besar,” kata para penghuni kampung. Itu baru biaya untuk tiang utama, belum menghitung biaya untuk membangun dinding, lantai dan atap. Selain biaya yang mahal, bahan-bahan yang semula mudah didapat dari hutan kini semakin sulit dicari.

Selanjutnya saya mengunjungi Kampung Paronabaroro. Kondisi kampung di daerah ini berbeda dengan kampung yang saya jelajahi di kota Waikabubak sebelumnya. Letaknya yang terpencil membuat kampung ini masih sangat sederhana.  Kepercayaan Marapu masih dipegang erat oleh para penghuninya.

Perempuan tua mengenakan kain tanpa penutup dada. Pria dan wanita mengunyah sirih pinang yang membuat ludah mereka berwarna merah kesumba. Kebiasaan ini dimulai sejak umur belasan dan membuat bibir nampak merah seakan memakai gincu. Kuda tertambat di samping rumah sebagai lambang status sosial keluarga.

Jalan masuk menuju kampung ini berupa jalan setapak sepanjang kira-kira 4 kilometer. Pada bagian depan kampung terdapat tanah lapang penuh kubur batu yang lebih baru. Sebagian sudah dimodifikasi dengan menggunakan semen, bukan lagi batu utuh.

Kubur batu dengan usia lebih tua terletak di bagian tengah kampung. Kompleks kubur batu mengelilingi sebuah altar tempat pelaksanan upacara adat. Tak sembarang orang boleh menginjakkan kaki ke tempat yang dianggap keramat itu.

Listrik baru saja masuk di kawasan ini pada akhir bulan Januari. Sumber listrik berasal dari genset yang bahan bakarnya diisi dengan cara patungan dengan beberapa kampung di sekitar. Untuk menghemat biaya, mereka hanya menggunakannya pada malam hari.

(Sumber: http://id.travel.yahoo.com)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2011 in Artikel Menarik, Travelling

 

Kampung Penjaga Adat

Bau harum menyergap saya saat menjejakkan kaki di pulau Sumba untuk pertama kalinya. Bandar udara Tambolaka berbau seperti bunga yang berbaur daun dan hutan. Inilah Sumba, dimana padang sabana berpagar pantai dan langit biru. Sumba, negeri para rato, dimana darah tertumpah untuk mengantarkan arwah.

Kota pertama yang saya tuju bernama Waikabubak, ibukota kabupaten Sumba Barat. Kota ini berjarak satu jam perjalanan dari bandara Tambolaka. Waikabubak banyak disarankan oleh para penggemar perjalanan sebagai pos untuk menjelajahi wilayah Sumba Barat dan sekitarnya.

Setelah meletakkan tas di hotel, saya bersiap keliling kota berbekal selembar peta. Tujuan pertama adalah mencari warung makan, yang baru saya temukan setelah berjalan agak jauh dari penginapan. Belakangan saya tahu bahwa warung makan adalah barang langka di Sumba. Mereka hanya ada di beberapa di kota, sisanya ada di terminal atau persinggahan tepi jalan utama.

Tak jauh dari Jalan Bhayangkara yang merupakan jalan utama, terdapat tiga kampung adat yakni kampung Tarung, kampung Waitabar dan kampung Prai Klembung. Meski berada di tengah kota warga ketiga kampung ini masih memegang teguh kepercayaan adat. Mendaki sedikit, saya menemukan kumpulan rumah kayu beratap alang-alang dengan kubur batu di sekelilingnya.

Rumah adat ini punya tiga bagian. Bagian paling bawah adalah tempat tinggal hewan peliharaan seperti kerbau, babi, kambing dan ayam. Di atasnya ada bagian tempat tinggal keluarga. Penduduk desa bercerita bahwa dulu, satu rumah bisa menampung 60 orang yang tidur mengelilingi perapian.

Pada bagian tengah rumah adat terdapat perapian yang selalu menyala. Di atas perapian tergantung kotak penyimpan makanan yang sudah dimasak, agar tak dimakan binatang yang bebas berkeliaran di dalam rumah. Api juga menjaga makanan tetap hangat dan awet.

Bagian ketiga rumah adalah atap. Atap rumah adat Sumba menjulang tinggi, bisa sampai 8 meter. Di dalam atap terdapat ruangan yang dipakai untuk menyimpan cadangan makanan. Peralatan upacara juga biasanya disimpan di sini.

Penghuni kampung sangat ramah mengajak saya mengobrol. Mereka heran ketika saya menjelaskan bahwa saya datang sendirian dari Jakarta, lalu menyapa saya dengan sebutan “adik nona”. Warga kampung bercerita tentang marapu, agama adat Sumba. Marapu adalah kepercayaan terhadap dunia roh yang berpengaruh besar dalam kehidupan manusia yang masih hidup. Meski memuja arwah leluhur, bukan berarti penganut Marapu tak punya Tuhan. Penganut Marapu beriman pada sang maha pencipta yang mendengar dan melihat segala yang dilakukan manusia.

Pemujaan terhadap arwah menyebabkan upacara pemakaman menjadi hal yang penting bagi penganut marapu. Mereka percaya bahwa orang yang meninggal harus diantar menuju alam arwah dengan upacara yang cukup. Jika tidak, rohnya akan melayang-layang sehingga dapat membahayakan kerabatnya maupun orang lain.

Upacara kematian melibatkan pengorbanan hewan dalam jumlah besar. Puluhan kerbau, kuda dan babi harus disembelih untuk melengkapi upacara. Jenazah kemudian diletakkan dalam lubang kubur atau dalam kubur batu. Meski kini warga sudah banyak yang menganut agama Kristen, upacara ini tetap dilakukan. Sebagian jenazah juga tetap dimakamkan dengan kubur batu yang berlambang salib.

Di dalam kampung, seperti juga di kota, saya banyak melihat warga yang menyandang parang. Rupanya penduduk asli Sumba terbiasa menyarungkan parang tajam ke pinggang, kemanapun mereka pergi. Seorang bapak yang saya temui dengan bangga menceritakan kisah  tentang parangnya. Dia mengaku pernah menggunakan parang itu untuk membunuh orang. “Tapi itu dulu. Sekarang membawa parang menjadi salah satu cara saya untuk menjaga adat,” kata bapak itu.

Darah dan perang bukan hal asing bagi penduduk asli Sumba. Konon pada zaman dahulu, penduduk desa punya kebiasaan  memenggal kepala serta menguliti lawan yang kalah dalam perang antar suku. Desa ini punya tambur yang berlapis kulit manusia. Sayang saya tak boleh melihatnya karena tambur kecil ini hanya keluar saat upacara adat. Hingga kini perang antar suku masih terjadi karena berbagai alasan, antara lain perebutan batas tanah.

Suasana kampung ramai dengan ibu-ibu yang menenun kain di teras rumah. Tenunan ini dibuat dengan alat sederhana dan dihiasi lambang-lambang tradisional merapu. Selembar kain butuh waktu tenun satu hingga dua minggu dan akan dijual mulai harga Rp 50 ribu. Penduduk desa nampak sudah terbiasa dengan kedatangan turis, yang akan diminta mengisi buku tamu dan memberikan donasi. Anak-anak akan menyapa riang, dengan harapan mendapat sepotong gula-gula.

(Sumber: http://id.travel.yahoo.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2011 in Artikel Menarik, Travelling

 

Bertualang ke Pulau Sumba

Menuju Sumba

Pulau Sumba dapat dicapai melalui udara lewat dua bandaranya. Bandar udara Tambolaka di Sumba Barat dan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda di Sumba Timur.

Penerbangan dilayani setiap hari oleh Merpati, Batavia dan Transnusa. Dari Jakarta pesawat akan transit di Denpasar, Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau ini. Penerbangan oleh Merpati bertujuan akhir ke Kupang, dengan jalur Denpasar-Tambolaka-Waingapu-Kupang dan sebaliknya. Perjalanan udara dari Tambolaka ke Waingapu memakan waktu kurang dari 10 menit, saat yang tepat untuk mengamati Sumba dari udara.

Pulau ini juga bisa dicapai melalui laut dari pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dan Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Transportasi

Jangan lupa membawa peta pulau maupun peta kota untuk memperkirakan jarak dan lokasi. Peta dapat diunduh dari beberapa situs panduan perjalanan.

Kondisi jalan utama yang menghubungkan kota-kota utama di Sumba sudah relatif baik. Jalan-jalan yang lebih kecil masih banyak mengalami kerusakan, berlubang dan berlumpur saat hujan. Ada beberapa jembatan yang masih dalam perbaikan sehingga pengendara kendaraan bermotor harus menyeberangi sungai.

Transportasi umum tersedia pada jalur-jalur utama. Angkutan antar kota menggunakan mobil elf, biasanya sangat penuh sampai penumpang bergelantungan di pintu dan atap mobil. Jalur menuju daerah yang lebih terpencil dilayani oleh beberapa truk dengan jadwal tak menentu.

Dua kota besarnya, Waingapu dan Waikabubak dapat dicapai dengan travel seharga Rp 50 ribu dengan waktu tempuh 5 jam. Travel akan menjemput dan mengantar penumpang ke tempat tujuan.

Pengelola hotel biasanya bisa membantu mencari motor maupun mobil yang disewakan. Tarif penyewaan motor lengkap dengan pemandu Rp 200 ribu. Adapun tarif sewa mobil mulai Rp 400 ribu.

Kuliner dan suvenir

Hampir tidak ada makanan khas yang dijual di Sumba. Ditambah lagi, jarang sekali ada warung yang menjual makanan. Tempat makan hanya ada di pusat kota. Meski sebagian besar penduduk beragama Kristen, makanan halal dapat diperoleh dengan mudah. Jika ingin pergi jauh seharian ke daerah terpencil, sangat disarankan untuk membawa bekal dari kota.

Oleh-oleh khas Sumba adalah ikat tenun. Beberapa kampung adat juga merupakan penghasil ikat tenun terbaik. Sempatkan melihat proses tenun dan pewarnaan dengan menggunakan bahan alami yang didapat dari alam. Motif tenunan berbeda di masing-masing daerah. Sumba barat punya tenunan bermotif lebih sederhana dari Sumba Timur.

Menginap

Ada beberapa pilihan menginap murah seharga Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu, terutama di ibukota kabupaten. Biasanya hotel juga menyediakan transportasi dari dan menuju bandara. Ada pula pilihan untuk menginap di resort berbintang seperti Nihiwatu di Sumba Barat.

Pilihan waktu terbaik

Pejalan yang berkunjung pada musim hujan akan bertemu Sumba yang hijau, basah dan bersyukur atas hujan. Padang sabana terbentang seperti karpet hijau sejauh mata memandang.

Mengunjungi Sumba pada musim hujan artinya harus siap menembus jalan yang berubah menjadi kolam berlumpur. Pada umumnya kondisi jalan utama Sumba sudah cukup bagus. Namun untuk menuju pantai maupun kampung adat di pedalaman, perjalanan harus melewati jalan tanah yang akan becek ketika hujan turun.

Tak demikian keadaannya pada musim kemarau. Saat itu padang hijau akan diganti warna cokelat karena rumput kekeringan. Sumba memang masyhur dengan cuacanya yang panas dan kering. Taufik Ismail dalam puisinya yang berjudul Beri Aku Sumba menceritakan Sumba sebagai “cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari.”

Saat musim panas, transportasi menuju tempat terpencil lebih mudah. Langit nampak biru dengan malam penuh bintang sehingga memungkinkan petualangan di alam bebas seperti hiking atau berkemah.

Upacara adat

Selain memperhitungkan cuaca, waktu terbaik untuk melakukan perjalanan di pulau ini adalah saat digelarnya upacara adat. Upacara yang sayang untuk dilewatkan adalah Pasola, “perang” dua pasukan berkuda dengan cara melempar lembing dari atas kuda.

Upacara adat Pasola digelar empat kali setahun di empat tempat berbeda, biasanya pada Februari dan Maret. Hanya pemuka adat yang bisa menentukan kapan tanggal pasti Pasola digelar, karena upacara ini harus dilakukan bertepatan dengan munculnya cacing Nyale dari laut.

Upacara dimulai sejak dini hari dengan kegiatan mencari nyale di pantai. Sesudahnya barulah para rato bersiap di atas kuda, tanpa pelana. Pasola merupakan kegiatan yang berisiko tinggi karena melibatkan . Peserta Pasola tak takut darah yang tumpah. Luka dianggap biasa dan kematian tak menyisakan dendam.

Adapun pada bulan Oktober atau November terdapat upacara penutupan Wula Podu di Waikabubak, Sumba Barat. Wula podu adalah bulan larangan yang berlaku di Kampung Tarung, Prai Klembung dan Waitabar. Pada bulan larangan para penghuni kampung banyak dilarang melakukan berbagai kegiatan – bahkan tak boleh menangisi keluarga yang meninggal. Pada akhir Wula Podu penduduk mengadakan pesta adat yang sangat meriah dengan korban binatang dan tari-tarian.

Upacara pemakaman juga menjadi atraksi menarik bagi para turis. Pemeluk kepercayaan Marapu percaya bahwa orang mati membutuhkan bekal untuk pergi ke alamnya. Jenazah akan dibungkus dengan berlapis-lapis kain tenun, diiringi dengan penyembelihan korban hewan dalam jumlah banyak. Puluhan kerbau, puluhan babi dan ratusan ayam dipercaya bisa menjadi bekal almarhum menjadi roh penghuni Marapu.

Semua upacara ini tidak diadakan secara teratur menurut kalender masehi. Untuk mengetahui kapan upacara-upacara ini diadakan, sebaiknya hubungi biro perjalanan maupun hotel sebelum merencanakan perjalanan.

(Sumber: http://id.travel.yahoo.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2011 in Artikel Menarik, Travelling

 

Paradiso Tersembunyi Tanah Pasundan

Green Canyon berada di Cijulang, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 285 km dari Jakarta (31 km dari Pantai Pangandaran).

Tempat ini merupakan sekelompok gua, dengan stalagtit dan stalagmit yang tersembunyi di balik tebing-tebing hijau — mungkin itulah mengapa dinamakan Green Canyon, pelesetan dari Grand Canyon di Amerika Serikat. Orang setempat biasa menyebutnya Cukang Taneuh.

Untuk menuju ke gua, Anda harus menuju dermaga dan membeli tiket. Bila pergi pada saat hari libur (apalagi akhir pekan yang panjang), bisa dipastikan Anda harus menunggu beberapa jam hingga mendapat giliran menaiki perahu menuju gua.

Perahu-perahu wisata yang dioperasikan adalah milik masyarakat setempat, namun diatur oleh pemerintah kabupaten. Satu perahu dapat mengangkut hingga lima penumpang dengan harga sewa Rp 75.000. Bila ingin berenang di gua, Anda dapat menyuruh awak perahu menunggu, tentu dengan biaya tertentu.

Mereka akan meminta Rp 100.000 untuk seharian penuh, namun tentunya Anda tidak akan menghabiskan satu hari di sana. Tawarlah, mungkin Anda bisa mendapatkan Rp 80.000 di musim liburan dan Rp 50.000 ketika sedang sepi pengunjung.

Masing-masing perahu selalu menyediakan pelampung untuk penumpangnya, sehingga bila Anda kurang pandai berenang, jangan terlalu khawatir. Para pelancong biasanya juga memanfaatkan batu-batu gua untuk melompat ke air yang jernih.

Tempat ini masih bebas polusi, pemandangannya pun indah.

Apabila Anda tidak suka berenang, Anda dapat memanfaatkan waktu menikmati pemandangan, juga mengambil gambar. Sebelum pintu masuk gua, terdapat sebuah dermaga kecil yang biasanya digunakan oleh perahu untuk menunggu. Di sana ada beberapa pedagang yang menjual minuman dan makanan kecil.

Salah satu kekurangan dari Green Canyon adalah pemeliharaannya yang masih kurang baik, mungkin karena tempat ini merupakan objek wisata yang relatif baru. Di sini, hanya ada tiga toilet dan sebuah mushola kecil, padahal pada saat liburan pengunjung dapat mencapai hingga ratusan orang.

Namun, penduduk setempat mengambil untung dengan cara menyediakan kamar-kamar kecil dan tempat sholat yang lebih layak, hanya dengan tarif Rp 2.000. Tempat parkir yang ada di seberang dermaga cukup luas, dengan biaya Rp 3.000 untuk sehari penuh.
Di sekeliling area parkir terdapat deretan warung yang menjual nasi dan ikan bakar serta kelapa muda. Mungkin Anda juga ingin menikmati makanan lokal seperti lotek, karedok dan rujak tumbuk. Selain harganya murah, sangat cocok untuk mengisi perut setelah lelah bermain di gua!


Berperahu melewati tebing-tebing di kawasan Green Canyon. Kredit foto: Tempo/Aditya Herlambang Putra.

Menuju Green Canyon

Dengan mobil pribadi, dari Jakarta Anda dapat melalui tol Cipularang menuju Bandung. Keluar tol di Cileunyi, ikutilah jalan Ciawi-Nagreg menuju Tasikmalaya. Sebelum Rajapolah, Tasikmalaya, beloklah ke kanan dan ambil rute Ciamis-Banjar. Dari sana Anda akan melihat tanda-tanda yang menunjukkan arah ke Pangandaran. Waktu tempuh Jakarta-Cijulang 6-7 jam.

Apabila Anda akan menempuh perjalanan dengan kendaraan umum, dari Terminal Kampung Rambutan, PO Budiman menyediakan bus jurusan Pangandaran. Dari Grogol dan Tangerang juga ada beberapa bus yang melayani rute ini. Sesampainya di Pangandaran, Anda harus berganti bus yang menuju Cijulang. Terminal Cijulang berada sekitar 1 km dari Green Canyon.

Selain jalur darat, terdapat pula penerbangan Jakarta-Pangandaran melalui Bandung sehari sekali dari maskapai Susi Air. Anda sebaiknya memesan tiket jauh-jauh hari.

Informasi lainnya

Lebih baik Anda menyiapkan uang tunai yang cukup, karena ATM terdekat berada sekitar 1 km dari Green Canyon — di Bank BRI tepat di seberang kantor kecamatan Cijulang. Penduduk lokal yang saya temui mengatakan, mesin tersebut sering kehabisan uang tunai.

Bila hal itu terjadi, Anda akan terpaksa menempuh sekitar 4 km untuk mendapatkan mesin ATM berikutnya. Tentu Anda tidak ingin ini terjadi bukan?

Para pengunjung juga dapat melakukan body rafting di sekitar Gua Kelelawar. Aktivitas ini dikelola oleh para awak perahu bekerjasama dengan karang taruna desa setempat. Katakan pada awak perahu  bahwa anda ingin melakukan body rafting dan mereka akan mengantar anda ke tempatnya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3-4 jam dan tentu saja dengan biaya tambahan

Tidak ada akomodasi di sekitar Green Canyon. Hotel paling dekat adalah di Panireman Riverside bibir sungai menuju ke Pantai Batu Karas, sekitar 15 menit dari Green Canyon. Hotel-hotel lain berada di sekitar Pantai Batu Karas, tempat wisata yang akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

(Sumber : http://id.travel.yahoo.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2011 in Artikel Menarik, Travelling

 

Kota Terbaik Dunia

Wisata Auckland

Suku Maori menyebut Selandia Baru Aotearoa (daratan panjang berawan  putih). Lanskap yang menakjubkan dengan hutan rimbunnya, satwa liar dan iklim yang menyenangkan merupakan surga bagi pencari kedamaian, rasa santai, dan ketenangan, termasuk juga taman bermain bagi mereka yang mencari petualangan.

Jika dibandingkan dengan ukuran dengan Inggris, Colorado atau Jepang, populasi penduduk Selandia Baru hanya 4 juta orang, membuatnya menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terjarang. Perubahan cuaca yang relatif sedikit membuatnya menjadi tujuan wisata yang ideal sepanjang tahun.

Auckland, kota terbesar di Selandia Baru dengan populasi penduduk 1,3 juta orang, dihuni oleh sepertiga penduduk Selandia Baru. Perpaduan kota yang canggih dengan pesisir pantai menghasilkan gaya hidup yang selalu masuk dalam peringkat  10 teratas dunia.  Bayangkan sebuah suasana kota, di mana orang tinggal menempuh waktu setengah jam ke pantai yang indah, jalur pendakian dan lusinan pulau wisata lainnya. Ditambah dengan iklim yang cerah, latar belakang kebudayaan Polynesia dan makanan enak, anggur serta tempat belanja – Anda pasti sudah memperoleh gambaran tentang Auckland.


Pemandangan kota Auckland di malam hari. Kredit foto: Thinkstock

Auckland merupakan pintu gerbang bagi Anda yang ingin mendapatkan pengalaman berpetualang di Selandia Baru. Auckland adalah tempat yang tepat untuk menikmati budaya perkotaan, makanan dan mode yang memikat Anda. Suasana pantai dan laut yang tenang mengundang Anda untuk bersantai. Auckland juga merupakan keajaiban geografis dengan 48 gunung berapi dan dua hutan hujan basah yang berusia ratusan tahun.

Makanan dan hiburan

Ketika Anda berkunjung ke Auckland, tidak perlu khawatir soal makanan. Anda akan menemukan banyak makanan yang seusai dengan selera. Ada lebih dari 900 restoran tersebar di seluruh kota. Dari makanan di restoran mewah sampai restoran trendy di pinggir kota atau kafe-kafe di dalam kota. Auckland mewah dari segi menu, banyak hidangan yang terinspirasi oleh imigran dari Polynesia, Samoa, Asia dan Eropa. Restoran populer di lembah sungai Viaduct dan Princes Wharf, termasuk Euro dan Wildfire dan Harbourside di Ferry Building.

Berbelanja

Auckland adalah pusatnya perancang busana terkenal Selandia Baru.  Blok di sekitar High Street, Chancery dan Vulcan Lane menampung butik Karen Walker, Workshop, Zambesi dan World, serta lusinan dari perancang Selandia Baru lainnya. Daerah pinggiran kota seperti Ponsonby, Parnell dan Newmarket juga terkenal sebagai tempat tujuan belanja.

Auckland juga tempat belanja yang baik untuk benda-benda seni yang unik serta kerajinan tangan bertema Kepulauan Pasifik. Mal besar dan outlet seperti St Lukes, Albany Westfield, Sylvia Park, Dress-Smart dan Botany Downs banyak tersebar di pinggiran kota. Terdapat juga banyak pasar tradisional bagi para pemburu bahan makanan segar, seni dan kerajinan tangan, pakaian serta barang bekas.

Berani melakukan bungy jump dari atas jembatan ini? Di Auckland, bisa. Kredit foto: Thinkstock

Auckland hanya 30 menit dari manapun

Ya, hanya dalam setengah jam Anda dapat berlayar ke pulau, trekking menelusuri hutan basah, piknik ke gunung berapi, mencoba anggur di kebun anggur, memacu adrenalin dengan sepeda motor 4WD, mendayung kayak di laut, menyelam, berselancar, berkemah, melihat koloni gannet atau hanya berjalan-jalan di pantai pasir hitam.

Pilihlah kereta api untuk sampai ke atas atau mendaki puncak dengan ketinggian 260 meter untuk menyaksikan pemandangan 360 derajat dari Teluk Hauraki dan kota Auckland. Pulau ini mempunyai gua lava, dengan batuan yang unik dan hutan pohutukawa.

Di Pulau Waiheke, Anda akan terus-terusan merasakan musim panas. Begitu menginjakkan kaki di pulau ini, Anda langsung lebih muda 10 tahun. Waiheke, oleh banyak orang, dianggap sebagai bagian dari pengalaman yang paling ajaib di Auckland, dan mudah ditempuh menggunakan kapal ferry. Keindahan pantai Waiheke dan hutannya yang alami berpadu secara harmonis dengan kafe, kebun anggur dan studio seni.


Kebun anggur di Auckland. Kredit foto: Thinkstock

Pulau ini sangat cocok untuk menikmati sehari berbelanja dan mencicipi anggur, atau bahkan bersantai selama beberapa hari. Waiheke terkenal dengan industri anggur, penginapan eksklusif dan banyak seniman besar Selandia Baru yang memilih tinggal di sana. Banyak yang bisa dilakukan di Waiheke, dari menunggang kuda dan wisata pertanian hingga menaiki kayak di laut dan mendaki gunung.

Ada 22 taman konservasi yang mudah dicapai dari pusat kota Auckland. Totalnya, tersedia lebih dari 500 kilometer trek berjalan kaki. Waitakere Ranges  (taman terbesar di Auckland) menyediakan pemandangan yang tepat untuk bersepeda gunung atau sekadar berjalan-jalan. Arataki Visitor Centre, di ujung Scenic Drive Titirangi, menyediakan informasi tentang taman, pantai dan jalur trek di tempat ini.

Di pesisir barat, tempat-tempat berselancar seperti Whatipu, Karekare, Piha, Bethells dan Murawai tak akan terlupakan bagi penggemar olahraga ini. Pastikan untuk memeriksa jadwal penerbangan di koloni gannet Muriwai. Gunakan masker dan snorkel saat menjumpai ‘penduduk lokal’ di Goat Island Marine Reserve-ikuti petunjuk ke Leigh dari warkworth (utara Auckland)

Mengawal Teluk Hauraki, Great Barrier Island mempunyai pantai alami dan wilayah hutan yang luas. Di sana terdapat beberapa tanaman dan spesies burung yang unik. Keindahan alam seperti ini makin sulit ditemukan di bumi. Semak-semak alami ditambah dengan jalur trek, menuju ke sumber air panas alami  puncak gunung dan bendungan bersejarah Kauri.


Pinggir pantai Murawai di Auckland. Kredit foto: Thinkstock

Berada 627 meter di atas permukaan laut, Hirakimata (Gunung Hobson) mengundang pendaki dengan pemandangan yang tidak akan terlupakan. Sebagian besar pulau dengan luas 285 kilometer persegi itu sengaja diperuntukkan bagi konservasi, dikelola oleh Departemen Konservasi. Pulau ini menjadi tujuan terkenal untuk menyelam, memancing, berselancar dan berkemah. Setiap hari selalu tersedia jadwal penerbangan.

Gunakan kappal ferry dari pusat kota Auckland melintasi kota pinggir laut Devonport untuk menikmati makan siang di kafe dan berbelanja. Alternatif lainnya, berjalan ke puncak gunung Victoria atau North Head untuk mendapatkan pemandangan luas. Kapal ferry dari Devonport datang dan berangkat setiap setengah jam.

Jika Anda merasa cukup kuat, berjalan kaki dari pantai timur ke pantai barat Auckland untuk melihat banyak pemandangan indah ikon kota. Tanyakan kepada Pusat Informasi Pengunjung di kota ini untuk mendapatkan brosur perjalanan.


Batu Singa (Lion Rock) di salah satu pantai di Auckland. Kredit foto: Thinkstock

Pulau Rangitoto adalah fitur paling mengesankan di teluk Auckland, membawa kita menembus dasar laut sekitar 600 tahun lalu. Kembang api yang keluar dari gunung vulkanik membuat penduduk lokal  Maori menjulukinya “Sky of Blood”. Rangitoto bisa dinikmati dengan tur berpemandu atau sendiri.

Sekitar 20 tahun yang lalu, sebagian besar dari 220 hektar pulau Tiri Tiri Matangi merupakan lahan tandus. Dalam kemitraan unik antara pemerintah dan balai konservasi dari Auckland, dibuatlah ruang terbuka, aman dari hewan predator dan ditanamilah lebih dari 3 juta pohon. Tiri juga memberikan kesempatan pengunjung melihat tempat penangkaran satwa terbuka. Pulau ini merupakan habitat dari banyak burung Selandia Baru yang terancam punah, termasuk kiwi dan takahe. Pemandu wisata tersedia guna membantu Anda menikmati keindahan pulau ini, yang semuanya dikelola oleh Departemen Konservasi.

Gunung tertinggi di Auckland adalah Maungawhau (Mount Eden). Di lereng gunung banyak terdapat rumah-rumah, Maori pa (benteng) yang masih bisa dilihat meski tertutup rumput. Gudang makanan, petak-petak dan rumah tinggal merupakan bukti peninggalan suku Maori dari abad ke 13. Maungakiekie yang dikenal sebagai One Tree Hill, adalah salah satu gunung api terbesar di Auckland. Ini merupakan salah satu situs terbesar suku Maori di Selandia Baru – terasering dan lubang-lubang kumara masih terlihat di sini. Sebuah jejak arkeologi yang membawa Anda ke tempat menarik.


Kawasan hutan yang masih alami di Auckland. Kredit foto: Thinkstock

Selandia Baru memiliki empat musim: musim gugur (Maret hingga Mei), musim dingin (Juni hingga Agustus) dan musim semi (September hingga November), musim panas (Desember hingga Februari).

(Sumber: http://id.travel.yahoo.com)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2011 in Artikel Menarik, Travelling

 

Soal Fungsi Komposisi Invers and Suku Banyak

Untuk mendapatkan soal dan penyelesaiaannya mengenai Fungsi Komposisi Invers dan Suku Banyak

Silahkan klik disini

(Jika ada yang perlu ditanyakan silahkan kirim komentar saja atau bagi yang sudah tahu nomer saya, silahkan via sms juga bisa. mohon maaf sebelumnya jika pelayanan jawaban atas pertanyaan dari komentar atau sms saya respon agak telat.. Terimakasih…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2011 in Mathematics