RSS

Arsip Kategori: Travelling

Daerah Wisata Kawasan Baturaden

Di Baturaden ini kita bisa menikmati berbagai jenis wisata, yakni:

Pancuran 3 (Telu)

Di pancuran ini mengalir air panas yang mengandung belerang. Selain untuk merasakan kehangatan, wisatawan berkunjung ke sana juga untuk menikmati khasiat belerang untuk mengatasi berbagai penyakit kulit dan tulang.

Pancuran 7 (Pitu)

Read the rest of this entry »

 
 

8 Gua Bersejarah di Dunia

1. Petra, Jordan

Kota Petra di Yordania dikenal sebagai setting dari film, Indiana Jones dan Perang Salib Terakhir. Ini juga salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru, dan sangat mudah untuk melihat mengapa arsitektur termasuk yang paling canggih yang pernah dilihat. Dibangun ke dalam lereng Gunung Hor, Petra berkembang selama zaman Romawi, tetapi tidak diketahui oleh dunia barat sampai 1812 ketika ditemukan oleh penjelajah Swiss, Johann Ludwig Burckhardt. Lebih dari 800 monumen individu dapat dilihat di Petra, termasuk makam,tempat mandi, ruang pemakaman dan kuil
2. Al-Hijr, Saudi Arabia
Di antara situs paling terkenal Arab Saudi arsitektur adalah Al Hijr, juga dikenal sebagai Madain Saleh. Bagian depan tempat tinggal di Al Hijr telah diukir di gunung batu pasir kadang-kadang di milenium kedua SM. Al Hijr – yang secara harfiah berarti ‘tempat berbatu’ – diyakini telah dihuni oleh Nabataeans dan Tsamud. Ini fitur sumur air, makam monumental awet, prasasti dan gambar gua. Read the rest of this entry »
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada November 20, 2011 in Artikel Menarik, Travelling

 

Keindahan 7 Kejaiban Dunia Yang Baru Versi New7wonders

Panitia New7Wonders of Nature telah mengumumkan tujuh finalis yang mendapatkan dukungan suara terbanyak sebagai tujuh keajaiban dunia baru untuk kategori alam. Selain Taman Nasional Komodo, ada Amazon, Halong Bay, Iguazu Falls, Jeju Island, Puerto Princesa Underground River dan Table Mountain.Mereka menyingkirkan 21 destinasi wisata alam lainnya yang masuk dalam jajaran finalis dan turut bersaing memenangi voting. Berikut profil mereka, seperti dikutip dari new7wonders:

1. Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo yang meliputi Pulau Komodo, Rinca and Padar, ditambah pulau-pulau lain seluas 1.817 persegi adalah habitat asli komodo. Taman Nasional Komodo didirikan pada 1980 untuk melindungi kelestarian komodo. Tak hanya hewan langka tersebut, Taman Nasional Komodo juga untuk melindungi berbagai macam satwa, termasuk binatang-binatang laut.
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada November 20, 2011 in Artikel Menarik, Travelling

 

Gunung Api Terkecil di Dunia

Oleh Olenka Priyadarsani

Bulan Maret yang lalu saya memiliki beberapa hari waktu libur, sehingga saya memutuskan untuk pergi ke Filipina seorang diri. Bohol atau Palawan sangat menarik untuk dikunjungi, namun karena singkatnya waktu yang saya miliki, sulit untuk mencapai kedua tempat tersebut.

Lagipula, sebagai orang Indonesia dengan pantai-pantainya yang luar biasa indah, mengapa saya harus ke Filipina untuk berwisata pantai. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk pergi ke Tagaytay di Provinsi Cavite selain mengunjungi Manila.

Tagaytay adalah salah satu tujuan wisata populer di Filipina, terutama bagi mereka yang berada di Pulau Luzon. Kota kecil ini berada di dataran tinggi dengan suhu udara relatif lebih sejuk daripada daerah lain di pulau. Selain itu, di Tagaytay ada Gunung Taal, gunung api terkecil di dunia yang berada di tengah-tengah Danau Taal. Sementara itu di tengah-tengah Gunung Taal adalah sebuah kaldera yang berbentuk seperti danau.

Jadi, saya berangkat dengan sebuah maskapai Filipina dari Jakarta. Penerbangan tengah malam tersebut membawa saya tiba di Ninoy Aquino International Airport (NAIA) pada pukul 06.00 pagi. Sebelum berangkat, saya sempat bertanya kepada beberapa rekan Filipina, bagaimana caranya pergi ke Tagaytay.

Mereka semua menyarankan untuk memilih taksi kuning dengan argometer. Sayangnya, ketika bertanya pada petugas taksi, ia mengatakan bahwa peraturan baru menyatakan taksi kuning tidak boleh keluar dari Metro Manila.

Akhirnya, saya menguji keberuntungan dengan bertanya ke konter taksi putih dengan tarif yang ditentukan di depan. Kabar buruk. Mereka mengatakan bahwa ongkos taksi ke Tagaytay adalah 1000 peso Filipina atau sekitar 80 dolar Amerika! Tentu saja saya tidak mau membayar begitu banyak, masa ongkos taksi sekali jalan lebih mahal daripada ongkos tiket Jakarta-Manila.

Untung saya membawa buku panduan yang menginformasikan bahwa bus menuju Tagaytay dapat dicari di Pasay City. Dengan taksi kuning berargometer, saya hanya membayar sekitar 20 ribu rupiah hingga ke Pasay City. Dari Terminal Pasay saya naik salah satu bus dengan tulisan Tagaytay di kaca depan.

Sebenarnya, bus-bus tersebut menuju ke kota Nasugbu dan Balayan melalui Aguinaldo Highway yang melewati kota Tagaytay. Dengan ongkos sekitar 15 ribu rupiah — saya lupa berapa peso tepatnya — saya menikmati perjalanan tiga jam dalam bus yang baru, bersih, ber-AC, dan sangat nyaman. Kondekturnya menggunakan mesin tiket elektronik ketika penumpang membayar ongkos. Sistem ini sangat bagus untuk meminimalisasi kecurangan.

Perjalanan dengan bus menuju ke Tagaytay tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia. Lalu lintas cukup buruk di Manila, namun makin membaik ketika kami makin menjauhi kota. Perjalanan melalui beberapa kota, antara lain Dasmarinas dan Silang. Saya turun ketika tiba di Plaza Olivarez di Tagaytay City.

Danau Taal berada di Provinsi Barangas, sekitar 20 menit menggunakan becak motor. Christopher, pengemudi becak saya, mengendarai becak melalui jalanan berliku turun mendekati bibir danau. Pemandangan danau sangat indah. Di tepi danau, Anda harus menyewa perahu untuk menyeberang hingga ke Pulau Taal.

Sesampainya di pulau, Anda dapat menyewa kuda — lebih tepatnya keledai — untuk membawa Anda ke kawah, sekitar satu jam perjalanan. Harganya cukup mahal, waktu itu saya membayar sekitar 300 ribu rupiah pulang pergi. Bila Anda merasa cukup kuat, Anda dapat berjalan memilih untuk berjalan kaki. Jalan setapak menuju kawah sangat kering, berdebu, dengan medan yang cukup sulit.

Pastikan Anda mengenakan topi lebar, kacamata hitam, serta masker. Anda juga akan membutuhkan banyak air putih karena terik matahari.

Kawah tersebut seluas kira-kira dua kilometer persegi. Di tengah kawah ada sebuah pulau yang diberi nama Vulcan Point. Vulcan Point disebut sebagai pulau terbesar di dunia yang berada di dalam sebuah danau yang berada dalam pulau yang ada dalam danau di sebuah pulau. Cukup membingungkan bukan? Lebih jelasnya, Vulcan Point adalah sebuah pulau yang berada di Danau Kawah, di Pulau Taal yang berada di Danau Taal, di Pulau Luzon.

Objek wisata lain di sekitar Tagaytay adalah People’s Park in the Sky yang merupakan puncak tertinggi di Tagaytay City. Presiden Filipina pada saat itu, Imelda Marcos, berniat membangun istana di puncak bukit tersebut namun pembangunannya tidak pernah diselesaikan.

Dari puncak bukit tersebut, Anda dapat melihat Danau Taal, Teluk Balayan, Laguna de Bay, dan Teluk Manila. Selain itu, Anda juga dapat menikmati hijaunya bukit-bukit di sekitar puncak.

Akomodasi sangat mudah ditemukan di Tagaytay City. Anda dapat memesannya lewat internet atau langsung datang. Bila Anda berkunjung ke tempat ini jangan lupa mencoba beberapa makanan tradisional. Sinigang adalah semacam sup ikan atau ayam dengan rasa gurih dan asam yang merupakan masakan umum di Filipina.

Atau coba juga balut, embrio (telur sebelum menetas) bebek yang dimakan dengan cangkangnya — jujur saya tidak sanggup memakannya. Di Tagaytay, pastikan Anda juga mencoba buko pie atau pia dengan isi kelapa muda. Yang terakhir ini adalah favorit saya!

Selamat bertualang!

Sumber: http://id.travel.yahoo.com

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada November 4, 2011 in Travelling

 

Phu Quoc: Upaya Vietnam untuk Menjadi Raja Pantai Asia

Bagaimana Vietnam berharap untuk meningkatkan jumlah wisatawan jadi 2 juta orang dengan bantuan sebuah pulau yang tenang dan sepi.

Oleh Christopher Johnson

Jika Anda pernah bertanya-tanya seperti apa rupa Thailand pada akhir 1980-an, datanglah ke Pulau Phu Quoc di lepas pantai barat daya Vietnam, salah satu tujuan baru di ‘sirkuit’ Teluk Siam yang mencakup Koh Samui, Koh Chang, dan Koh Kong.

Dengan cepat, Phu Quoc menjadi tujuan populer wisata pulau di Vietnam. Sampai sekarang, Phu Quoc berhasil mempertahankan karakter yang tidak lagi akan Anda temui di Thailand.

Pedagang pasar mengenakan topi kerucut menjajakan baguette, bebek, kadal terbang dan barang lain yang jarang terlihat di sisi Teluk bagian Thailand, sedangkan sepeda motor melewati jalan tanah merah untuk melewati peternakan mutiara dan pelabuhan perikanan gaya lama.

Penduduk desa, yang membasahi jalan dengan air dan menegakkan pagar ilalang untuk melindungi rumah mereka dari debu, mengumpulkan rumput laut dan menangkap cumi dengan jaring menggunakan derek buatan sendiri.

Cadangan hutan lindung di Phu Quoc memiliki air terjun tempat pemuda Vietnam dan turis asing menikmati pemandangan dan mendinginkan badan.

Kerajinan dari pulau ini telah meningkatkan ekonomi lokal – dan harga – sekitar 10 persen per tahun.


Cadangan hutan lindung di Phu Quoc memiliki air terjun tempat pemuda Vietnam dan turis asing menikmati pemandangan dan mendinginkan badan.

Dua juta wisatawan tahun 2020

Di tengah rencana pemerintah untuk memperluas bandara Duong Dong agar dapat menampung penerbangan internasional, Phu Quoc – pulau terbesar di Vietnam dengan luas 574 kilometer persegi – berkembang sangat cepat.

Pemerintah berencana untuk meningkatkan kedatangan wisatawan tahunan dari 77 ribu pada 2010 menjadi 2 juta pada 2020, dan banyak investor dari Eropa, Thailand, Malaysia dan daratan Vietnam membeli tanah, membuka restoran, serta toko-toko menyelam.

Banyak veteran Thailand sudah membandingkan Phu Quoc dengan Koh Samui pada 1980-an, atau Koh Chang pada 1990-an.

“Pulau ini memiliki hutan yang terlindungi dengan sangat bagus serta ukurannya tak terlalu besar,” kata Jean-Marie Helleputte, seorang hakim dari Belgia yang membeli tanah beberapa tahun lalu di dekat Long Beach Phu Quoc dengan istrinya Thanh, pengasingan Vietnam yang telah kembali ke negara asalnya.

“Anda akan mendapati berbagai macam tanaman dan pohon-pohon dan pantai-pantainya juga sangat bagus. Warna alam di sini sangat indah, hijaunya berbeda-beda karena banyak hujan.”

Menurut dia, jalan-jalan baru membuat perjalanan lebih mudah, terutama pada musim hujan yang membuat jalan jadi berlumpur. Perusahaan taksi baru, dengan pengemudi yang mengenakan kemeja serta dasi, menurunkan biaya transportasi ke tingkat lebih wajar.

Meski begitu, seperti orang lain di pulau ini, Helleputte khawatir bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan dan pembangunan akan mengganggu ketenangan pulau. “Pemerintah Vietnam akan membuat pulau ini jadi Singapura Kecil,” katanya. “Penduduk Phu Quoc menghasilkan banyak uang dengan menjual tanah mereka ke orang asing untuk pembangunan hotel.”

Sanne Rasmussen, seorang instruktur dengan di Rainbow Divers, yang telah mengadakan perjalanan menyelam dari Phu Quoc selama 10 tahun, mengatakan meningkatnya jumlah wisatawan, hotel besar, dan jalan aspal akan menghilangkan ‘pesona kemurnian Vietnam’ dan mengubah pulau ini menjadi “kota yang sama dengan kota lain di seluruh dunia. “


Menggunakan kayu kelapa lokal dan ilalang, pekerja konstruksi dan keluarga mereka bekerja cepat untuk membantu industri pariwisata Vietnam mengejar ketinggalan dengan Thailand.

Lokasi menyelam dan kelezatan lokal

“Menurut saya, pulau ini sama sekali tidak siap untuk menjadi pusat turis – kami mengalami pemadaman listrik dua hari sekali pada musim sibuk dan beberapa tempat tidak memiliki air panas.”

Setidaknya air di laut selalu memiliki suhu yang bagus untuk menyelam dan snorkeling.

Rasmussen mengatakan, perairan dangkal di sekitar pulau-pulau kecil cocok untuk penyelam pemula, dan penyelam ahli juga dapat mencari nudibranch, kerang Cowrie, hiu bambu dan kura-kura.

Menurutnya, Rainbow Divers baru saja menemukan sebuah situs rumput laut dengan naga laut dan melihat dugong, beberapa makhluk paling langka di Asia Tenggara.

Ikan warna-warni di perairan Phu Quoc mungkin mirip dengan ikan-ikan di tetangga mereka di Teluk Siam, tapi masakan Phu Quoc lebih dipengaruhi oleh sentuhan Prancis. Pulau ini juga menghasilkan lada lezat dan saus ikan nuoc mam.

Di antara kios-kios di keramaian pasar malam, Rasmussen menyebut favoritnya termasuk sarapan atau tapas di Mondo, yang dimiliki oleh pasangan Swedia, makanan Jerman di German B; Peppers Pizza, sebuah restoran di depan Hotel Viet Thanh; dan kopi di tempat bernama Mister Dung.

Untuk resor kelas atas, ia merekomendasikan Eden, Mango Bay dan terutama Chen La untuk berbulan madu, sementara penyelam banyak menginap di Hotel Viet Thanh.

Setengah jalan menyusuri pantai panjang dari kota Duong Dong kota, resort yang dikelola oleh keluarga Thai Tan Tien menawarkan bungalow baru yang luas untuk $ 20 per malam. Di sini Anda bisa tinggal dengan tenang dan memiliki dermaga di atas rawa menuju ke restoran pinggir pantai tempat wanita lokal giat memberikan pijat tradisional di pantai.

Untuk saat ini, Phu Quoc sudah cukup menyenangkan dalam bentuk sederhana, masih didominasi oleh keluarga lokal yang menyewakan sepeda motor untuk $ 5 sehari dan bungalow dengan $ 20 per malam.

Meskipun kurang memiliki pasir putih Thailand, pasir di pantai keemasan Phu Quoc lembut, dan menarik semakin banyak wisatawan.


Kesederhanaan hidup di pulau-pulau Thailand pada 1980an ini tetap terjaga di Pulau Phu Quoc.

Cara pergi ke sana

Wisatawan dari Saigon biasanya menggunakan penerbangan murah (sekitar $ 50-100) Vietnam Airlines, Mekong Air atau lainnya demi menghindari perjalanan bus yang panjang dan melelahkan melewati rawa-rawa Delta Mekong.

Tapi jembatan-jembatan baru dan jalan halus berarti perjalanan bus yang lebih cepat, lebih murah – perjalanan saya butuh waktu 5 jam – sampai ke pelabuhan Rach Gia, dan kemudian menggunakan hydrofoil cepat, sekitar dua jam, ke Phu Quoc.

Ha Tien, hanya satu jam naik feri dari Phu Quoc, adalah titik masuk ke Kamboja.

Sumber: http://id.travel.yahoo.com

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada September 28, 2011 in Artikel Menarik, Travelling